Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menggelar prosesi wisuda ke-79. Dalam momen kelulusan tersebut, Mamaudou Sangare menyampaikan pernyataan yang menonjol soal pelestarian bahasa daerah. “Nyong arep membudayakan bahasa Ngapak,” ujarnya dalam acara itu.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu sorotan pada rangkaian wisuda ke-79 UMP. Kalimat yang disampaikan Mamaudou Sangare itu secara harfiah menggambarkan keinginan untuk menjadikan bahasa Ngapak sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar bahasa yang dipakai di lingkungan tertentu saja.
Bahasa Ngapak merupakan salah satu ragam dialek bahasa Jawa yang tumbuh dan berkembang di wilayah barat Jawa Tengah, terutama di kawasan Banyumas dan sekitarnya. Ciri khasnya terletak pada pengucapan vokal dan konsonan yang berbeda dari dialek Jawa Mataraman, sehingga sering terdengar khas dan mudah dikenali. Kata “nyong” yang berarti saya atau aku, serta “arep” yang berarti ingin atau akan, merupakan bagian dari kosakata yang akrab dalam percakapan sehari-hari penutur Ngapak.
UMP sendiri berlokasi di Purwokerto, Banyumas, wilayah yang menjadi salah satu pusat penggunaan bahasa Ngapak. Karena itu, lingkungan kampus dan kota tempat kampus itu berdiri lekat dengan penggunaan dialek tersebut dalam pergaulan warga maupun mahasiswa. Wisuda ke-79 menjadi ruang bagi lulusan untuk menyuarakan kembali pentingnya bahasa daerah di tengah arus penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing.
Upaya membudayakan bahasa Ngapak umumnya dilakukan melalui percakapan sehari-hari, kesenian tradisional, hingga konten digital yang dibuat anak muda. Langkah semacam ini dipandang sebagai cara menjaga agar sebuah dialek tidak kehilangan penutur, terutama di kalangan generasi muda yang tumbuh dengan paparan bahasa yang beragam.
Pernyataan Mamaudou Sangare pada wisuda ke-79 UMP menegaskan bahwa kelulusan bukan hanya soal capaian akademik, tetapi juga soal identitas dan kedekatan dengan akar budaya tempat seseorang menempuh pendidikan. Seruan itu sekaligus mengingatkan bahwa bahasa daerah dapat terus hidup selama penuturnya memilih untuk memakainya.




