Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah III Lampung, Itno Itoyo, menyatakan pihaknya telah membentuk tim untuk menelusuri penemuan seekor tapir di areal perkebunan sawit di Kecamatan Way Serdang, Kabupaten Mesuji, Lampung. Penemuan ini menjadi perhatian publik setelah video evakuasi satwa tersebut beredar luas di media sosial.
Dalam video yang viral, terlihat seekor tapir berada di lahan perusahaan perkebunan sawit. Warga bersama sejumlah pihak kemudian melakukan evakuasi terhadap satwa tersebut. BKSDA Bengkulu-Lampung melalui Seksi KSDA Wilayah III Lampung langsung merespons dengan menurunkan tim ke lokasi kejadian untuk melakukan verifikasi.
“Berkenaan dengan video ditemukannya tapir di kebun sawit, BKSDA Bengkulu-Lampung melalui Seksi KSDA Wilayah III Lampung telah membentuk dan menurunkan tim ke lokasi kejadian,” kata Itno saat dikonfirmasi pada Minggu, 20 September 2026. Ia menambahkan, “Informasi tersebut diperlukan agar upaya penanganan dapat dilaksanakan sebaik mungkin.”
Tim BKSDA masih menelusuri kronologi penemuan untuk memastikan lokasi dan kondisi terkini tapir tersebut. Itno menegaskan bahwa penanganan terhadap satwa dilindungi ini akan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan satwa serta upaya konservasinya. “Penanganan terhadap tapir akan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan satwa serta upaya konservasinya,” tandasnya.
Tapir merupakan satwa liar yang dilindungi di Indonesia berdasarkan peraturan perundang-undangan. Habitat alaminya berada di hutan tropis dataran rendah, namun perambahan hutan dan perluasan lahan perkebunan sering kali memaksa satwa ini keluar dari habitatnya untuk mencari makan. Kemunculan tapir di kebun sawit Mesuji diduga terkait dengan hilangnya koridor ekologis akibat alih fungsi lahan.
Langkah BKSDA yang cepat dalam menangani temuan ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Koordinasi dengan perusahaan perkebunan dan masyarakat setempat juga diperlukan untuk memastikan evakuasi berjalan aman tanpa membahayakan satwa maupun manusia. Jika kondisi tapir sehat, kemungkinan akan dilepasliarkan ke habitat yang lebih sesuai, atau diserahkan ke pusat rehabilitasi jika membutuhkan perawatan.
Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan mengelola lanskap secara berkelanjutan, agar konflik antara satwa liar dan aktivitas manusia dapat diminimalkan. Masyarakat diimbau untuk segera melaporkan temuan satwa liar kepada pihak berwenang agar penanganan dapat dilakukan sesuai prosedur konservasi.




