Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda Kalimantan Barat, menyebabkan tiga daerah di provinsi tersebut berstatus berbahaya. Status ini ditetapkan pada Rabu, 23 September 2026, berdasarkan informasi yang dihimpun dari sumber resmi. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena dapat berdampak luas pada lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Karhutla di Kalimantan Barat memang kerap terjadi pada musim kemarau, ketika curah hujan rendah dan lahan gambut mudah terbakar. Aktivitas manusia seperti pembukaan lahan untuk pertanian atau perkebunan sering menjadi pemicu utama. Namun, faktor cuaca ekstrem akibat perubahan iklim juga memperparah situasi, membuat api sulit dipadamkan dan menyebar cepat ke area lain.
Status berbahaya yang disematkan pada tiga daerah tersebut menandakan tingkat siaga tertinggi. Artinya, potensi kebakaran dan dampak asap sangat tinggi, sehingga diperlukan kewaspadaan ekstra dari seluruh pihak. Warga di sekitar lokasi terdampak diminta untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker jika harus beraktivitas. Kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap dapat memicu gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.
Pemerintah daerah bersama tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan relawan telah dikerahkan untuk melakukan pemadaman. Upaya pembuatan sekat bakar, penyemprotan air dari udara, dan patroli rutin terus dilakukan untuk mengendalikan api. Meski demikian, kendala di lapangan seperti titik api yang tersebar dan akses sulit membuat proses pemadaman berjalan lambat. Selain itu, keterbatasan personel dan peralatan juga menjadi tantangan tersendiri.
Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena selain melanggar hukum, tindakan ini sangat berisiko memicu karhutla lebih luas. Partisipasi aktif warga dalam melaporkan titik api kepada petugas sangat diharapkan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. Kesadaran bersama menjadi kunci untuk mencegah bencana ini berulang setiap tahun.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa atau kerugian material akibat karhutla di tiga daerah tersebut. Namun, dampak asap yang menyebar telah mengganggu aktivitas penerbangan dan pelayaran di sejumlah wilayah Kalbar. Pihak berwenang terus memantau perkembangan situasi dan akan memperbarui informasi jika ada perkembangan baru.
Diharapkan dengan status berbahaya ini, semua pihak semakin sigap dalam menangani karhutla dan meminimalisir dampaknya. Langkah pencegahan jangka panjang seperti restorasi gambut dan penguatan sistem peringatan dini juga perlu menjadi prioritas agar bencana serupa tidak terulang di masa mendatang.



