Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta mencatat sebanyak 1.216 kejadian kebakaran di ibu kota sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Dari lima wilayah administrasi, Jakarta Barat menjadi daerah dengan kasus kebakaran tertinggi, sementara listrik mendominasi dugaan penyebab.
Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta Bayu Meghantara merinci, Jakarta Barat mencatat 368 kejadian atau sekitar 30,26 persen dari total kasus. Disusul Jakarta Timur dengan 299 kejadian, Jakarta Selatan 252 kejadian, Jakarta Utara 163 kejadian, dan Jakarta Pusat 134 kejadian. “Untuk kejadian kebakaran berdasarkan wilayah, Jakarta Barat sebanyak 368 kejadian, Jakarta Timur 299 kejadian, Jakarta Selatan 252 kejadian, Jakarta Utara 163 kejadian, dan Jakarta Pusat 134 kejadian,” kata Bayu dalam keterangannya, Rabu (23/9/2026).
Secara bulanan, jumlah kebakaran cenderung meningkat pada pertengahan hingga akhir periode. Data menunjukkan Januari 129 kejadian, Februari 93, Maret 126, April 132, Mei 138, Juni 141, lalu melonjak menjadi 217 pada Juli dan 240 pada Agustus. “Kalau berdasarkan kejadian per bulan, Januari ada 129 kejadian, Februari 93, Maret 126, April 132, Mei 138, Juni 141, Juli 217, dan Agustus 240 kejadian,” jelas Bayu. Agustus menjadi bulan dengan kejadian tertinggi, dan kombinasi Juli-Agustus menyumbang 457 kasus atau sekitar 37,6 persen dari total delapan bulan.
Dari sisi objek yang terbakar, bangunan perumahan menempati posisi pertama dengan 358 kejadian atau 29,44 persen. Berikutnya bangunan umum dan perdagangan 230 kejadian, instalasi listrik luar gedung 194, sampah 174, kendaraan 76, tumbuhan 62, lainnya 62, lapak 35, dan bangunan industri 25 kejadian. “Kalau berdasarkan objek yang terbakar, bangunan perumahan 358 kejadian, bangunan umum dan perdagangan 230, instalasi listrik luar gedung 194, sampah 174, kendaraan 76, tumbuhan 62, lainnya 62, lapak 35, dan bangunan industri 25 kejadian,” papar Bayu.
Sementara itu, listrik menjadi dugaan penyebab utama dengan 649 kejadian atau 53,37 persen dari total. Penyebab lain meliputi membakar sampah 171 kejadian, gas 103, lainnya 100, kelalaian manusia 88, penyalaan sendiri 48, rokok 46, dan penyalaan kembali 11 kejadian. “Untuk dugaan penyebab, listrik sebanyak 649 kejadian, membakar sampah 171, gas 103, lainnya 100, kelalaian manusia 88, penyalaan sendiri 48, rokok 46, dan penyalaan kembali 11 kejadian,” ujar Bayu.
Lonjakan kasus pada Juli-Agustus menjadi perhatian, mengingat dua bulan tersebut menyumbang lebih dari sepertiga total kebakaran. Data ini menegaskan perlunya peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya kebakaran, terutama yang berkaitan dengan instalasi listrik dan pengelolaan sampah, demi mengurangi risiko di masa mendatang.




