CEO perusahaan teknologi logistik Krealogi menyatakan bahwa banyak program keberlanjutan di Indonesia gagal karena terlalu mengejar target angka tanpa memperhatikan dampak jangka panjang. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah kesempatan yang dilaporkan CNN Indonesia pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Menurut CEO Krealogi, pendekatan yang terlalu berorientasi pada metrik kuantitatif sering kali mengabaikan aspek kualitatif dan keberlanjutan sosial. Banyak perusahaan menetapkan indikator kinerja utama (KPI) yang ketat, seperti pengurangan emisi karbon atau penggunaan bahan daur ulang, namun tidak diimbangi dengan strategi implementasi yang matang.
“Kejar angka membuat program kehilangan esensi. Akhirnya, inisiatif hanya berjalan di atas kertas, tidak menyentuh akar masalah,” ujarnya. Ia mencontohkan program pengelolaan limbah yang hanya berfokus pada tonase daur ulang, tetapi tidak memperhatikan edukasi pekerja atau infrastruktur pendukung.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya aspek environmental, social, and governance (ESG) di kalangan korporasi Indonesia. Banyak perusahaan berlomba-lomba melaporkan capaian keberlanjutan, namun sebagian di antaranya dianggap hanya sebagai gimik pemasaran atau greenwashing.
Krealogi sendiri merupakan startup yang bergerak di bidang logistik dan rantai pasok. Perusahaan ini mengklaim telah mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam operasionalnya, mulai dari optimalisasi rute pengiriman hingga penggunaan kemasan ramah lingkungan. CEO Krealogi menekankan bahwa keberhasilan program keberlanjutan harus diukur dari perubahan perilaku dan dampak sosial, bukan sekadar angka.
Pakar keberlanjutan dari Universitas Indonesia, yang tidak disebutkan namanya, menilai pernyataan CEO Krealogi relevan dengan kondisi di lapangan. Ia mengatakan bahwa banyak program gagal karena tidak melibatkan pemangku kepentingan secara menyeluruh dan hanya berfokus pada laporan tahunan. “Angka penting, tapi bukan segalanya. Yang lebih krusial adalah bagaimana program itu dijalankan dan diterima oleh masyarakat,” ujarnya.
Ke depan, CEO Krealogi berharap perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat mengubah paradigma dari sekadar memenuhi target menjadi membangun ekosistem keberlanjutan yang inklusif. Ia menekankan bahwa kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan komunitas lokal menjadi kunci agar program keberlanjutan benar-benar memberikan manfaat jangka panjang.



