Pemerintah Kecamatan Lumbir melalui Korwilcam Dinas Pendidikan resmi membuka Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Kecamatan Lumbir Tahun 2026 pada Rabu (9/9/2026). Kegiatan ini diselenggarakan di kompleks kantor Korwilcam Dindik Lumbir serta SDN 1 Lumbir sebagai langkah strategis membendung pergeseran penggunaan bahasa daerah di kalangan anak-anak.
Upacara pembukaan berlangsung khidmat dengan menghadirkan Kepala Korwilcam Dindik Lumbir, Arifin Nur Hayadi, S.Pd., M.Pd., yang bertindak langsung sebagai pembina upacara. Sementara itu, posisi pemimpin upacara dipercayakan kepada Duto Prasetyo, S.Pd., yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah Dasar Negeri 2 Karanggayam. Ketua Panitia FTBI Lumbir 2026, Sugino, S.Pd., menyampaikan bahwa festival ini menjadi ajang unjuk kebolehan sekaligus ruang evaluasi pembinaan bahasa daerah pada tingkat sekolah dasar.
Penyelenggaraan tahun ini fokus pada penguatan akar budaya lokal di tengah gempuran arus modernisasi yang memengaruhi pola komunikasi harian siswa. Dalam perhelatan budaya ini, panitia melombakan tujuh cabang seni dan sastra daerah yang meliputi Ndagel Ijen, Macapat, Geguritan, Sesorah, Cerkak, Nulis Jawa, serta Mendongeng menggunakan bahasa Banyumasan. Seluruh cabang perlombaan tersebut dirancang untuk menguji kelancaran, kreativitas, dan pemahaman mendalam para peserta.
Arifin Nur Hayadi menegaskan bahwa festival tahunan ini dirancang khusus sebagai wadah inkubasi bagi para siswa untuk lebih mendalami serta mengasah kemahiran berbahasa ibu. Ia menilai fenomena sosial saat ini menunjukkan penurunan minat generasi muda dalam menggunakan bahasa Jawa dialek Banyumasan pada kehidupan sehari-hari. Ia menyebutkan bahwa dinamika pergaulan dan kebiasaan berinteraksi anak-anak di lingkungan sekolah maupun masyarakat menjadi faktor utama memudarnya penggunaan bahasa daerah.
“Dengan adanya Festival Tunas Bahasa Ibu ini, merupakan salah satu wadah bagi peserta didik mengasah dan mendalami bahasa ibu, terutama bahasa Jawa Banyumasan, yang notabene banyak anak-anak di zaman sekarang sudah mulai lupa dengan bahasa ibu, karena pergaulan dan kebiasaan anak-anak di sekolah atau di lingkungan masyarakat,” ujar Arifin Nur Hayadi. Oleh karena itu, ajang ini diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan budaya agar anak-anak tidak kehilangan identitas linguistik lokal mereka.
Arifin menambahkan bahwa pelestarian warisan tutur lokal memerlukan komitmen bersama dari para pendidik, orang tua, serta pemangku kebijakan di tingkat kecamatan. Melalui semangat kompetisi yang sehat, festival ini diarahkan agar anak-anak kembali bangga menggunakan bahasa ibu di mana pun mereka berada. “Dengan adanya festival ini merupakan salah satu upaya mengenalkan, menjaga, dan melestarikan bahasa ibu,” tegas Arifin di hadapan seluruh peserta dan jajaran pendidik yang hadir dalam upacara pembukaan tersebut.
Melalui penyelenggaraan FTBI 2026 ini, Korwilcam Dindik Lumbir optimistis dapat melahirkan tunas-tunas baru yang tidak hanya mahir secara akademis, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai kearifan lokal Banyumas. Seluruh pemenang dari tingkat kecamatan ini nantinya akan mewakili Lumbir pada ajang serupa di tingkat Kabupaten Banyumas.



