Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai 8,98 juta orang hingga Juli 2026. Angka ini menjadi rekor tertinggi dalam sejarah pariwisata Indonesia, menunjukkan pemulihan sektor yang kuat setelah masa pandemi COVID-19.
Data tersebut dirilis BPS dan dilaporkan pada awal September 2026. Angka 8,98 juta merupakan akumulasi kunjungan selama periode Januari hingga Juli 2026, atau rata-rata sekitar 1,28 juta kunjungan per bulan. Capaian ini melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya, meskipun BPS tidak merinci angka pembanding secara spesifik.
Kepala BPS, dalam keterangan resminya yang dikutip pada Rabu (2/9), menyatakan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya konektivitas udara, pelonggaran visa, serta promosi pariwisata yang agresif. Namun, ia tidak menyebutkan kutipan langsung dalam rilis tersebut. Sektor pariwisata menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia, dan lonjakan kunjungan ini diharapkan dapat menggerakkan ekonomi lokal, terutama di daerah tujuan wisata seperti Bali, Lombok, dan Labuan Bajo.
Peningkatan jumlah wisman juga berdampak pada sektor perhotelan, transportasi, dan UMKM. Asosiasi pariwisata menyambut baik data ini, meskipun mereka mengingatkan pentingnya menjaga kualitas layanan dan keberlanjutan lingkungan. Pemerintah sendiri menargetkan 15 juta kunjungan wisman pada akhir 2026, dan dengan tren saat ini, target tersebut dianggap realistis untuk dicapai.
Namun, ada tantangan yang perlu diantisipasi, seperti potensi lonjakan inflasi di daerah wisata dan tekanan terhadap infrastruktur. BPS juga mencatat bahwa mayoritas wisman berasal dari negara-negara Asia Tenggara, Australia, dan Tiongkok, dengan tingkat rata-rata pengeluaran yang bervariasi. Data lebih rinci mengenai asal negara dan tujuan kunjungan akan dirilis dalam laporan bulanan BPS berikutnya.
Rekor ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global. Ekonom menilai bahwa sektor pariwisata mampu menjadi penyangga pertumbuhan, terutama jika didukung oleh kebijakan yang stabil dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Meski demikian, mereka juga mengingatkan agar tidak terlena dan terus berinovasi dalam menarik wisatawan berkualitas tinggi.
Dengan capaian ini, Indonesia semakin memantapkan posisinya sebagai destinasi wisata utama di kawasan. Pemerintah diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperbaiki infrastruktur dan memperkuat citra pariwisata berkelanjutan, sehingga kunjungan tidak hanya meningkat secara kuantitas, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.




