• Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy
Monday, November 2, 2026
portalberitakita.com
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Daerah
  • Teknologi
  • Hiburan
  • Olahraga
portalberitakita.com
No Result
View All Result

Kesaktian Pancasila dan Ujian Tetap Manusiawi di Hadapan Orang yang Dibenci

by reporter
October 3, 2026
in Nasional
0

Pancasila barangkali tidak paling sakti ketika ia diteriakkan dalam upacara, melainkan ketika seseorang memilih tetap manusiawi di hadapan orang yang dibencinya. Gagasan itu menjadi inti sebuah refleksi tentang kesaktian Pancasila yang menempatkan lima sila bukan sekadar sebagai hafalan atau simbol upacara, melainkan sebagai kompas moral yang baru berarti ketika digunakan untuk menentukan arah dalam kehidupan yang sesungguhnya. Refleksi ini menyoroti bagaimana nilai-nilai Pancasila diuji bukan pada saat semua orang sepakat, melainkan ketika keadaan memberi alasan untuk membenci.

Refleksi itu berangkat dari ingatan tentang masa ketika sebuah nama dapat menjadi hukuman. Nama tidak lagi sekadar penanda seseorang, tetapi berubah menjadi tanda yang membuat pintu-pintu tertutup, percakapan terhenti, dan jarak tumbuh di antara manusia. Seseorang dapat kehilangan kepercayaan bukan karena apa yang dilakukannya, melainkan karena label yang dilekatkan kepadanya. Di situlah sejarah memperlihatkan wajahnya yang paling getir: ketika ketakutan menguasai pikiran, manusia sering kali tidak lagi melihat manusia lain sebagai pribadi, dan yang terlihat hanya kelompok, cap, identitas, atau musuh yang harus dijauhi.

Karena itu, pertanyaan yang dinilai lebih mendasar bukan semata-mata apa yang terjadi pada masa lalu, melainkan apa yang telah dipelajari dari semua itu. Selama ini kesaktian Pancasila lebih sering dibicarakan dalam pengertian historis dan politis, yakni bagaimana lima sila itu bertahan melewati pergolakan zaman. Namun ada pengertian lain yang dinilai tak kalah penting, bahkan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu ketika Pancasila sanggup menjaga manusia agar tidak kehilangan kemanusiaannya. Manusia paling mudah menjadi manusia ketika keadaan baik-baik saja; yang sulit ialah tetap menjadi manusia ketika keadaan memberi alasan untuk membenci.

Sejarah disebut sebagai ingatan sebuah bangsa, tetapi ingatan dapat menjadi dua hal: cahaya yang menerangi atau bara yang terus disimpan di bawah abu. Sejarah boleh diperdebatkan, dokumen boleh diperiksa, kesaksian boleh dibandingkan, dan narasi boleh dikritisi, tetapi penderitaan manusia jangan sampai dihilangkan dari ingatan. Sebab ketika sejarah hanya dipakai untuk mencari alasan membenci, sejarah berhenti menjadi guru dan berubah menjadi senjata. Di titik itu, Pancasila seharusnya bekerja: bukan menghapus perbedaan tafsir, melainkan menjaga agar perbedaan tafsir tidak berubah menjadi alasan untuk menghilangkan martabat manusia. \”Pancasila tidak diuji ketika semua orang sepakat. Ia diuji ketika kita diberi alasan untuk membenci,\” demikian salah satu butir refleksi tersebut.

Refleksi itu kemudian menelaah sila pertama dan kedua. Sila pertama berbicara tentang Ketuhanan, tetapi Ketuhanan yang tidak melahirkan kerendahan hati mudah berubah menjadi kesombongan atas nama Tuhan. Ada manusia yang merasa paling dekat dengan kebenaran hanya karena merasa memiliki Tuhan, lalu memandang orang lain lebih rendah, kurang suci, kurang benar, bahkan tidak layak didengar. Padahal kesadaran ketuhanan semestinya membawa manusia pada kesadaran tentang keterbatasan dirinya, sehingga keyakinan kepada Tuhan membuat seseorang semakin berhati-hati ketika hendak menghakimi sesamanya.

Sila kedua menghadapkan pada persoalan yang lebih sulit, yakni kemanusiaan. Mencintai manusia yang kita sukai tidaklah terlalu sulit; ujian kemanusiaan justru datang ketika yang berhadapan dengan kita adalah orang yang kita anggap salah, orang yang berbeda, bahkan orang yang kita benci. Di sanalah kualitas sebuah masyarakat terlihat, apakah masih sanggup melihat wajah manusia di balik kesalahan seseorang, mampu menegakkan hukum tanpa kehilangan belas kasih, serta menuntut pertanggungjawaban tanpa mengubah seseorang menjadi sekadar label kesalahannya. Kemanusiaan tidak berarti membenarkan kesalahan, melainkan berani menyebut kesalahan sebagai kesalahan sekaligus menolak menjadikan kesalahan sebagai alasan merampas martabat manusia.

Persatuan pun dinilai sering dipahami secara keliru, seolah bangsa yang bersatu adalah bangsa yang semua warganya harus berpikir dengan cara yang sama. Padahal Indonesia dibangun bukan dari kesamaan: bahasa berbeda, adat berbeda, keyakinan berbeda, cara memandang kehidupan berbeda, bahkan cara membaca sejarah pun tidak selalu sama. Persatuan bukan pekerjaan menghapus perbedaan, melainkan kemampuan untuk hidup bersama di tengah perbedaan, dan masyarakat yang seluruh anggotanya selalu sepakat belum tentu yang paling bersatu. Demokrasi juga tidak selesai pada saat suara dihitung, melainkan mulai diuji setelahnya: bagaimana mereka yang menang memperlakukan mereka yang kalah, dan apakah musyawarah sungguh-sungguh menjadi ruang mencari kebijaksanaan.

Previous Post

Final FIFA ASEAN Cup 2026 Bakal Mempertemukan Indonesia dan Thailand

Next Post

Rocky Gerung, Kritikus Pemerintah yang Kini Diangkat Jadi Anggota Wantimpres

reporter

reporter

Next Post

Rocky Gerung, Kritikus Pemerintah yang Kini Diangkat Jadi Anggota Wantimpres

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plugin Install : Widget Tab Post needs JNews - View Counter to be installed
  • Trending
  • Comments
  • Latest

BRI Raih Dua Penghargaan dalam Bisnis Indonesia Financial Awards 2026

October 17, 2026

Sekolah Rakyat Jangkau 44 Ribu Anak di 182 Titik, Kemensos Gelar Open House Serentak

October 17, 2026

PGRI Jateng Diminta Perjuangkan P3K Jadi PNS dan Nasib Guru Wiyata Bakti

October 17, 2026
portalberitakita.com

Copyright © 2026 Portal Berita Kita. All rights reserved.

Navigate Site

  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home

Copyright © 2026 Portal Berita Kita. All rights reserved.