Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akhirnya buka suara terkait aksi tawuran di kawasan Manggarai yang menyebabkan perjalanan KRL terganggu pada Jumat malam, 21 Agustus 2026. Ia menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah yang kerap berulang ini.
Peristiwa tawuran yang terjadi di sekitar Stasiun Manggarai itu memaksa PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) untuk membatalkan atau mengalihkan sejumlah perjalanan. Akibatnya, ribuan penumpang yang bergantung pada moda transportasi massal ini mengalami keterlambatan dan kesulitan mencapai tujuan mereka. Aksi sekelompok pemuda yang saling serang tersebut juga membuat jalur kereta tidak aman untuk dilalui sehingga layanan sempat lumpuh total selama beberapa jam.
Pramono mengaku telah menerima laporan dari jajarannya mengenai kejadian tersebut. Dalam keterangan singkatnya, ia menyatakan keprihatinan yang mendalam dan memastikan akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian serta PT KCI untuk meningkatkan pengamanan di area stasiun. Ia juga menyebut bahwa tawuran di Manggarai bukan hal baru, sehingga diperlukan penanganan yang lebih menyeluruh dan tidak hanya bersifat reaktif.
Menurut Pramono, solusi jangka panjang yang sedang disiapkan meliputi beberapa aspek. Pertama, penguatan patroli gabungan antara aparat keamanan dan petugas stasiun, terutama pada jam-jam rawan. Kedua, perbaikan infrastruktur penerangan di titik-titik gelap yang kerap dijadikan lokasi tawuran. Ketiga, program pembinaan bagi pemuda setempat melalui kegiatan positif seperti pelatihan keterampilan dan olahraga yang difasilitasi oleh pemerintah provinsi.
Selain itu, Pramono menekankan pentingnya peran tokoh masyarakat dan orang tua dalam mengawasi pergaulan anak-anak mereka. Ia berencana menggandeng tokoh agama, RT/RW, dan lembaga swadaya masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih kondusif. Pendekatan sosial ini diharapkan dapat memutus rantai kekerasan yang sering dipicu oleh persoalan sepele dan persaingan antargeng.
Pemerintah provinsi juga akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk menindak tegas pelaku tawuran sesuai hukum yang berlaku. Langkah ini diambil sebagai efek jera, sembari tetap mengedepankan upaya preventif. Pramono menegaskan bahwa keamanan dan kenyamanan warga, terutama pengguna KRL, adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
Insiden tawuran di Manggarai ini menjadi pengingat bahwa masalah sosial di perkotaan membutuhkan perhatian serius dan berkelanjutan. Dengan komitmen yang ada, diharapkan kejadian serupa tidak lagi terulang, dan transportasi umum di Jakarta dapat beroperasi dengan aman dan lancar. Pramono berjanji akan mengevaluasi implementasi solusi tersebut secara berkala dan melibatkan semua pemangku kepentingan untuk memastikan hasil yang nyata di lapangan.




