Seorang perempuan asal Depok, Maryam, memutuskan mengubah jalan hidupnya menjadi seorang caregiver atau pendamping pasien setelah menyaksikan seorang lanjut usia (lansia) terbaring sendirian di rumah sakit pada akhir 2024. Peristiwa itu menyadarkannya bahwa orang sakit tidak hanya membutuhkan obat, tetapi juga teman untuk berbicara dan dukungan emosional.
Maryam yang sebelumnya bekerja sebagai marketing properti dan memiliki latar belakang sarjana ekonomi, mengaku tergerak hatinya saat melihat seorang pasien lansia di bangsal rumah sakit yang tidak ditemani siapa pun dari pagi hingga sore. “Aku tanya anaknya ke mana? Anaknya kerja, jadi cuma adanya malam saja. Pagi sampai sore itu sendiri. Jadi enggak ada teman ngobrolnya,” kenang Maryam kepada Liputan6.com.
Berawal dari rasa empati itu, Maryam mulai mencari informasi tentang jasa pendamping pasien melalui internet. Ia menemukan istilah Kaigo di Jepang dan kemudian mengenal profesi caregiver. Tanpa latar belakang profesional di bidang kesehatan, ia memutuskan menekuni profesi ini sejak 2025 dan belajar secara otodidak dengan menonton berbagai video edukasi. Tantangan awal yang ia hadapi adalah membantu kebutuhan dasar pasien lansia, seperti mengganti popok. “Kita kan ganti popok lansia sama anak-anak itu beda ya. Berat yang ngangkat mereka (lansia) sedangkan saya enggak ada basic pelatihan,” katanya.
Perjalanan Maryam mulai berubah ketika ia membagikan aktivitasnya sebagai caregiver di media sosial melalui akun @myambu.caregiver. Konten-konten yang diunggahnya, terutama video saat mendampingi pasien di rumah sakit, menarik perhatian banyak orang. “Pas saya masukin video caregiver di rumah sakit, mulai ramai. Banyak yang tanya-tanya. Habis itu ada yang minta jagain anak kecil yang sakit, terus merembet ke babysitter,” tutur Maryam. Mayoritas kliennya adalah keluarga pasien lansia yang harus bekerja dan membutuhkan seseorang untuk mendampingi orang tua mereka selama perawatan.
Menurut Maryam, peran seorang caregiver tidak hanya sebatas bantuan fisik, melainkan juga dukungan emosional. “Pasien itu sebenarnya butuh ditemenin, ngobrol. Kalau ganti popok, suster sebenarnya bisa. Tapi suster kan enggak bisa nemenin. Yang penting mereka ada yang ngajak ngobrol, support system lah, biar enggak sendirian,” ungkap dia. Rutinitas Maryam pun jauh dari jam kerja kantoran. Dalam sehari, ia bisa mendampingi dua hingga tiga pasien di berbagai wilayah Jabodetabek dengan durasi empat hingga 24 jam, tergantung kebutuhan.
Maryam harus siap berangkat sejak jam enam pagi, bahkan pernah meninggalkan rumah jam tiga dini hari usai sahur demi memenuhi permintaan keluarga pasien. Ponselnya nyaris tak pernah lepas karena sebagian besar pemesanan dilakukan sehari sebelumnya, namun panggilan mendadak untuk pasien UGD atau ICU juga kerap datang. “WhatsApp standby,” katanya singkat. Kisah Maryam menunjukkan bahwa profesi caregiver bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati untuk menjadi teman bagi mereka yang membutuhkan.

