Jakarta, CNN Indonesia — Kisah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor fesyen yang berupaya melestarikan aksara Lontara menjadi salah satu sorotan dalam program linkumkm by BRI. Artikel bertajuk “Kisah UMKM Fesyen Lestarikan Aksara Lontara Bersama linkumkm by BRI” yang dipublikasikan CNN Indonesia pada Kamis (8/10/2026) mengangkat bagaimana kegiatan usaha di bidang fesyen dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga warisan budaya.
Aksara Lontara merupakan salah satu aksara tradisional yang digunakan oleh masyarakat Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan. Aksara ini secara historis dipakai dalam penulisan naskah, catatan adat, hingga karya sastra yang diwariskan dari generasi ke generasi. Seiring perkembangan zaman dan perubahan pola komunikasi, penggunaan aksara Lontara dalam kehidupan sehari-hari semakin terbatas sehingga upaya pelestariannya memerlukan pendekatan yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
Di titik inilah sektor fesyen dinilai memiliki peluang untuk ikut berperan. Elemen budaya seperti motif, tulisan, dan ragam hias dapat dihadirkan kembali melalui produk yang dipakai sehari-hari, misalnya kain, pakaian, atau aksesori. Pendekatan semacam ini memungkinkan warisan budaya tidak hanya tersimpan di museum atau dokumen, tetapi juga hadir dalam produk yang memiliki nilai jual dan dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
linkumkm by BRI sendiri merupakan salah satu inisiatif yang menyasar pelaku UMKM di Indonesia. Program ini menjadi wadah bagi usaha kecil untuk memperoleh informasi, pembinaan, serta kesempatan memperluas jejaring dan pasar. Bagi pelaku usaha fesyen yang mengangkat unsur budaya lokal, keikutsertaan dalam program semacam ini dinilai dapat membantu memperkenalkan produk mereka kepada konsumen yang lebih beragam.
Sektor UMKM secara umum dikenal sebagai tulang punggung perekonomian nasional karena jumlahnya yang besar dan kemampuannya menyerap tenaga kerja. Di dalamnya termasuk usaha-usaha di bidang ekonomi kreatif yang mengandalkan gagasan, keterampilan, dan kekayaan budaya sebagai bahan baku utama. Subsektor fesyen dan kriya menjadi dua di antara sektor yang paling erat bersinggungan dengan warisan budaya daerah.
Kisah UMKM fesyen yang melestarikan aksara Lontara bersama linkumkm by BRI menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan kegiatan usaha tidak selalu berjalan di jalur yang terpisah. Produk yang membawa identitas daerah dapat menjadi media pengenalan budaya sekaligus sumber penghidupan bagi pelaku usahanya. Dengan begitu, upaya menjaga aksara tradisional dapat berlangsung berkelanjutan seiring dengan tumbuhnya usaha yang menopangnya.




