Perum Bulog melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap stok beras fortifikasi di sejumlah ritel modern. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi rencana penarikan 40 merek beras fortifikasi dari pasaran yang tengah dikaji oleh otoritas terkait. Sidak dilakukan di beberapa gerai ritel di Jakarta dan sekitarnya pada Kamis (6/8/2026).
Kepala Bulog, dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, menyatakan bahwa sidak bertujuan memastikan ketersediaan stok beras fortifikasi yang memenuhi standar mutu. Pihaknya juga ingin memverifikasi bahwa produk yang beredar di ritel telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penarikan 40 merek tersebut diduga terkait dengan ketidaksesuaian kandungan fortifikasi atau izin edar.
Beras fortifikasi merupakan beras yang ditambahkan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral untuk mengatasi masalah malnutrisi. Program ini didukung oleh pemerintah sebagai bagian dari upaya perbaikan gizi masyarakat. Namun, belakangan muncul temuan bahwa sejumlah merek tidak memenuhi spesifikasi yang ditetapkan, sehingga berpotensi ditarik dari peredaran.
Dalam sidak tersebut, Bulog mengecek label, tanggal kedaluwarsa, serta dokumen pendukung seperti sertifikat fortifikasi. Beberapa ritel diminta untuk sementara waktu menyetop penjualan merek-merek yang masuk dalam daftar penarikan hingga ada kejelasan lebih lanjut. Bulog juga berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Kementerian Pertanian untuk memastikan proses penarikan berjalan lancar tanpa mengganggu pasokan pangan nasional.
Penarikan 40 merek beras fortifikasi ini diperkirakan akan berdampak pada pasokan di beberapa wilayah. Namun, Bulog menjamin bahwa stok beras non-fortifikasi dan beras premium lainnya masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Masyarakat diimbau tidak panik dan tetap membeli beras dari sumber terpercaya.
Langkah sidak ini merupakan bagian dari upaya pengawasan rutin Bulog terhadap distribusi beras di pasar. Ke depannya, Bulog akan meningkatkan frekuensi inspeksi untuk mencegah beredarnya produk yang tidak sesuai standar. Pemerintah juga berencana merevisi regulasi terkait fortifikasi beras agar lebih ketat dan transparan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari asosiasi produsen beras fortifikasi mengenai rencana penarikan tersebut. Bulog berharap proses ini dapat selesai dalam waktu dekat sehingga pasokan beras fortifikasi kembali normal dan program perbaikan gizi tidak terganggu.



