Ratusan warga Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, kembali menggelar upacara adat Rasulan atau Bersih Desa pada Rabu (30/9/2026). Tradisi tahunan ini menjadi bentuk ungkapan rasa syukur atas melimpahnya hasil panen sekaligus permohonan keselamatan bagi seluruh masyarakat setempat.
Rasulan merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Gunungkidul yang sarat akan nilai budaya dan semangat gotong royong. Penyelenggaraannya tahun ini menyedot perhatian masyarakat setempat serta wisatawan yang datang menyaksikan jalannya prosesi. Rangkaian acara diawali dengan kegiatan kerja bakti pembersihan lingkungan oleh warga, sebelum berlanjut ke puncak prosesi berupa Kirab Gunungan hasil bumi.
Dalam prosesi kirab, warga dari berbagai padukuhan mengarak gunungan yang disusun rapi dari sayur-mayur, buah-buahan, serta makanan tradisional seperti nasi tumpeng dan ingkung ayam. Kirab gunungan ini melambangkan kesuburan tanah Gunungkidul dan kebersamaan warga. Setelah diarak, gunungan tersebut didoakan bersama dalam acara kenduri sebelum akhirnya dibagikan kepada masyarakat.
Lurah setempat menyampaikan bahwa Rasulan bukan sekadar pesta rakyat, melainkan warisan leluhur yang harus terus dijaga. “Tradisi ini adalah wujud nyata rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah hasil panen. Selain itu, Rasulan menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi, memupuk semangat gotong royong, dan melestarikan seni budaya lokal di tengah era modern,” ujarnya.
Kemeriahan Rasulan tahun ini ditutup dengan berbagai panggung hiburan rakyat dan pentas seni budaya. Sejumlah pertunjukan disiapkan, mulai dari reog, jathilan, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menjadi magnet bagi warga untuk berkumpul hingga akhir acara.
Melalui penyelenggaraan upacara adat ini, Pemerintah Kalurahan bersama masyarakat berharap kemakmuran, kedamaian, dan kesejahteraan selalu menyertai seluruh warga Wonosari, Gunungkidul, pada musim-musim tanam berikutnya.
Bagi masyarakat Gunungkidul, Rasulan tidak hanya berfungsi sebagai ajang syukuran panen, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antarwarga lintas padukuhan. Kegiatan kerja bakti yang mendahului prosesi kirab menunjukkan bahwa tradisi ini menempatkan kebersamaan sebagai bagian penting dari penyelenggaraannya, sementara ragam pentas seni yang ditampilkan memperlihatkan upaya warga merawat kesenian lokal agar tetap dikenal generasi berikutnya.




