Anggota Pramuka Siaga MI Ma’arif NU Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, mengikuti latihan semaphore dan morse pada Jumat (11/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan keterampilan kepramukaan sekaligus upaya mengasah kemampuan komunikasi, ketelitian, konsentrasi, dan kerja sama. Latihan dikemas secara aktif dan menyenangkan, sehingga peserta tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga langsung mempraktikkan keterampilan tersebut.
Latihan berlangsung di lingkungan sekitar madrasah dengan memperkenalkan dua keterampilan komunikasi khas kepramukaan, yaitu semaphore dan morse. Semaphore menggunakan gerakan dua bendera dengan posisi tertentu untuk menyampaikan huruf atau pesan, sedangkan morse menggunakan kombinasi kode yang harus diterjemahkan secara tepat. Peserta dilatih untuk mengamati instruksi, mengingat pola, kemudian mengirim maupun menerima pesan. Proses ini membuat latihan terasa seperti permainan yang menantang sekaligus memberikan pengalaman belajar. Kesalahan membaca atau mengirim kode menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mendorong peserta untuk terus mencoba hingga mampu melakukannya dengan benar.
Dalam kegiatan tersebut, Kamabigus MI Ma’arif NU Karangnangka, Kak Sugeng, memberikan motivasi kepada seluruh anggota Pramuka agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Menurutnya, keterampilan semaphore dan morse tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis kepramukaan, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun karakter peserta didik. Kemampuan memperhatikan kode, menunggu giliran, menyampaikan pesan, dan memastikan informasi diterima dengan benar membutuhkan ketelitian sekaligus kedisiplinan.
“Jangan takut salah dan jangan mudah menyerah. Dalam Pramuka, setiap kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Yang terpenting adalah terus mencoba, saling membantu, dan membangun kekompakan,” ujar Kak Sugeng saat memberikan motivasi kepada peserta.
Semangat tersebut terlihat dalam proses latihan ketika anggota Pramuka mencoba mengirim dan menerima pesan bersama teman satu regu. Mereka dituntut untuk saling memperhatikan agar pesan yang disampaikan tidak mengalami kesalahan. Ketika terdapat kode yang belum dipahami, peserta belajar meminta bantuan dan mendiskusikannya bersama. Situasi ini secara tidak langsung melatih kemampuan komunikasi interpersonal, kesabaran, serta sikap saling menghargai. Dengan metode praktik, peserta juga belajar bahwa keberhasilan sebuah regu tidak hanya ditentukan oleh kemampuan satu orang, tetapi membutuhkan kontribusi dan kekompakan seluruh anggota.
Kak Sugeng juga mendorong peserta didik untuk menjadikan latihan kepramukaan sebagai kesempatan meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri. Setiap anggota diberi ruang untuk mencoba tanpa takut melakukan kesalahan. “Pramuka bukan hanya tentang bisa berkemah atau menggunakan perlengkapan, tetapi bagaimana kita belajar disiplin, bertanggung jawab, kompak, dan siap menghadapi berbagai tantangan,” tambahnya.
Latihan semaphore dan morse menjadi bagian dari pembelajaran karakter di luar kelas. Aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dan kerja sama tersebut mendorong peserta memiliki sikap sabar, cermat, komunikatif, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Nilai-nilai kepramukaan seperti kedisiplinan, kekompakan, keberanian, dan kepedulian terhadap teman dapat tumbuh melalui kegiatan rutin. Kegiatan ditutup dengan penguatan dan evaluasi latihan. Peserta diharapkan semakin memahami pentingnya komunikasi yang tepat dalam kehidupan sehari-hari serta mampu menerapkan nilai-nilai Dasa Darma Pramuka di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Dari latihan semaphore dan morse, mereka belajar bahwa pesan yang baik membutuhkan ketelitian, fokus, dan kerja sama. Semangat yang tumbuh dari kegiatan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi lahirnya generasi Pramuka yang cerdas, terampil, disiplin, kompak, percaya diri, dan berkarakter.

