Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur memperkenalkan teknologi pascapanen jagung berbasis energi surya di Dusun Cabean, Desa Mulyorejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan efisiensi pengelolaan hasil panen sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang didanai Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Hibah BIMA Tahun 2026. Tim pengabdian memperkenalkan mesin pemipil jagung yang memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) serta rak pengering yang dilengkapi sensor kadar air.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan yang dihadiri perangkat Desa Mulyorejo, anggota Kelompok Tani Bintang Timur, serta masyarakat sekitar. Kepala Desa Mulyorejo mengapresiasi kerja sama antara perguruan tinggi dan masyarakat. “Kami mengapresiasi kontribusi UPN ‘Veteran’ Jawa Timur yang telah mendampingi masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan kelompok tani diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung upaya memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujarnya pada Sabtu (8/8/2026).
Setelah pembukaan, tim pengabdian memberikan penyuluhan mengenai pengelolaan pascapanen jagung. Materi meliputi teknik penanganan hasil panen, proses pemipilan, pemanfaatan energi terbarukan dalam kegiatan pertanian, serta pentingnya menjaga kadar air jagung sebelum dipasarkan. Tim menjelaskan bahwa kualitas hasil panen tidak hanya ditentukan oleh proses budidaya, tetapi juga penanganan setelah panen. Pengelolaan kadar air sesuai standar dapat membantu menjaga mutu jagung selama penyimpanan sekaligus mengurangi potensi kehilangan hasil.
Pada kesempatan tersebut, tim menyerahkan satu unit mesin pemipil jagung berbasis PLTS berkapasitas 650 Wp kepada Kelompok Tani Bintang Timur. Mesin tersebut menggunakan motor listrik berkapasitas 1,1 kW dengan kemampuan memipil sekitar 50 kilogram jagung per jam. Selain mesin pemipil, kelompok tani juga menerima rak pengering yang dilengkapi sensor kadar air. Tim kemudian memberikan pelatihan kepada anggota kelompok tani mengenai pengoperasian mesin, pemanfaatan sensor kadar air, hingga perawatan peralatan agar dapat digunakan secara berkelanjutan.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Primasari Cahya Wardhani, S.Si., M.Sc., menekankan pentingnya proses pascapanen dalam menjaga kualitas produksi pertanian. “Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan budidaya, tetapi juga oleh bagaimana hasil panen dikelola setelah dipanen. Melalui mesin pemipil berbasis PLTS dan rak pengering yang dilengkapi sensor kadar air ini, kami berharap petani dapat meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas hasil panen, menekan biaya operasional, serta memperoleh nilai tambah yang lebih baik,” ujarnya.
Penerapan teknologi energi bersih di sektor pertanian ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain dalam mengatasi masalah pascapanen. Dengan memanfaatkan energi surya, petani tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil tetapi juga menekan biaya operasional. Program ini menjadi contoh nyata sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mewujudkan pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.




