SEMARANG – Dinamika perekonomian nasional dan perkembangan pasar keuangan menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk mahasiswa. Di tengah perubahan kondisi pasar global, upaya menjaga kepercayaan investor asing dinilai penting untuk mendukung iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan. Pandangan itu disampaikan Destu Zuhair, mahasiswa Program Studi Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Menurut Destu, kepercayaan investor terbentuk melalui berbagai faktor, mulai dari stabilitas ekonomi, keterbukaan informasi, hingga kepastian kebijakan. “Kepercayaan investor asing perlu dijaga melalui upaya yang berkelanjutan. Transparansi informasi, kepastian hukum, dan kondisi ekonomi yang stabil menjadi beberapa hal penting dalam membangun keyakinan investor terhadap prospek Indonesia,” ujar Destu.
Pandangan tersebut relevan dengan perkembangan pasar modal Indonesia, termasuk perhatian terhadap evaluasi klasifikasi pasar oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Dinamika itu dinilai dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola pasar modal dan memperkuat keterbukaan informasi bagi para pelaku pasar. Selain itu, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami tekanan menunjukkan bahwa pasar keuangan dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun perkembangan ekonomi global. Karena itu, kondisi pasar perlu dipahami secara menyeluruh dengan mempertimbangkan beragam aspek yang memengaruhi keputusan investasi.
Destu menegaskan, keterbukaan informasi menjadi salah satu unsur penting dalam menciptakan pasar modal yang sehat. Informasi yang akurat, mudah diakses, dan disampaikan secara konsisten dapat membantu investor memahami kondisi pasar serta mengambil keputusan secara lebih terukur. “Pasar modal yang semakin transparan akan memberikan ruang bagi investor untuk memperoleh informasi yang memadai. Dengan demikian, kepercayaan dapat tumbuh seiring dengan perbaikan tata kelola dan penguatan perlindungan investor,” katanya.
Selain kondisi pasar modal, Destu menilai stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, suku bunga, serta konsistensi kebijakan ekonomi turut menjadi pertimbangan investor dalam menentukan arah penanaman modal. Komunikasi kebijakan yang jelas juga dinilai dapat membantu pelaku usaha memahami prospek ekonomi Indonesia. Ia menjelaskan bahwa investasi langsung dan investasi portofolio memiliki karakteristik yang berbeda. Investasi langsung umumnya berkaitan dengan pengembangan usaha, peningkatan kapasitas produksi, dan penciptaan lapangan kerja. Sementara itu, investasi portofolio cenderung lebih responsif terhadap perubahan sentimen pasar dan kondisi keuangan global.
“Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut terus didukung oleh iklim usaha yang kondusif, kepastian hukum, sumber daya manusia yang kompetitif, serta kebijakan yang konsisten,” ungkap Destu. Menurutnya, penguatan daya saing nasional perlu dilakukan secara berkelanjutan agar Indonesia mampu memanfaatkan peluang investasi di kawasan Asia Tenggara. Kolaborasi antara pemerintah, regulator, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan juga diperlukan untuk membangun ekosistem investasi yang semakin baik.
Destu menambahkan, kepercayaan investor tidak hanya ditentukan oleh pergerakan indeks saham dalam jangka pendek, tetapi juga oleh keyakinan terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. “Yang tidak kalah penting adalah menjaga konsistensi perbaikan. Dengan keterbukaan informasi, kepastian kebijakan, dan penguatan fundamental ekonomi, Indonesia memiliki peluang untuk terus meningkatkan kepercayaan investor sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkasnya. Dinamika pasar keuangan, dengan demikian, dapat menjadi bahan evaluasi bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional, sekaligus memperluas peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia.




