Pencarian kapal yang membawa jurnalis dan dilaporkan hilang di Selat Sunda resmi dihentikan. Keluarga korban kemudian melakukan tabur bunga di perairan tersebut sebagai bentuk penghormatan terakhir, Jumat (18/9/2026).
Kapal tersebut dilaporkan hilang setelah kontak terputus saat melintasi Selat Sunda. Tim SAR gabungan telah melakukan pencarian selama beberapa hari dengan melibatkan kapal patroli dan pesawat udara. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil dan tidak ditemukan jejak kapal maupun awaknya.
Setelah pencarian resmi dihentikan, keluarga korban bersama sejumlah kerabat mendatangi perairan Selat Sunda untuk menabur bunga. Aksi ini dilakukan sebagai simbol doa dan penghormatan terakhir bagi para korban. Mereka juga membawa foto korban dan berdoa bersama di tepi laut.
Selat Sunda dikenal sebagai salah satu perairan dengan lalu lintas kapal yang padat dan kondisi alam yang menantang. Arus kuat, cuaca buruk, dan gelombang tinggi kerap menjadi faktor penyebab kecelakaan. Beberapa insiden kapal hilang pernah terjadi di wilayah ini sebelumnya, sehingga keselamatan pelayaran menjadi perhatian serius.
Pihak keluarga berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bagi otoritas terkait untuk meningkatkan keselamatan pelayaran, terutama di perairan yang rawan kecelakaan. Mereka juga meminta agar pencarian dapat dilanjutkan jika ada informasi baru mengenai keberadaan kapal tersebut.
Sementara itu, pihak berwenang menyatakan bahwa penghentian pencarian dilakukan sesuai prosedur setelah melalui pertimbangan waktu dan kondisi. Namun, mereka tetap membuka kemungkinan untuk melakukan pencarian lanjutan jika ditemukan petunjuk baru, termasuk laporan dari nelayan atau kapal lain yang melintas.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan kerja korban. Mereka berharap agar para korban dapat ditemukan dalam keadaan selamat atau setidaknya jenazahnya dapat ditemukan untuk dimakamkan secara layak. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari perusahaan media tempat jurnalis tersebut bekerja.



