Bank Indonesia (BI) menyatakan akan memantau secara ketat perkembangan inflasi harga pangan seiring dengan pulihnya aktivitas ekonomi nasional. Pengawasan ini menjadi prioritas untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah momentum pemulihan.
Pernyataan tersebut mengemuka pada Rabu, 2 September 2026, ketika BI menegaskan komitmennya dalam mengendalikan tekanan inflasi. Pemulihan ekonomi yang ditandai dengan meningkatnya mobilitas dan permintaan masyarakat berpotensi mendorong kenaikan harga, terutama pada komoditas pangan yang bersifat fluktuatif.
Inflasi harga pangan menjadi perhatian khusus karena memiliki dampak langsung terhadap daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah. Kenaikan harga bahan pokok seperti beras, cabai, dan daging dapat memicu inflasi inti yang lebih tinggi, sehingga BI perlu merespons dengan kebijakan moneter yang tepat.
Dalam kerangka kebijakannya, BI memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas harga, seperti suku bunga acuan, operasi pasar terbuka, dan koordinasi dengan pemerintah. Bank sentral juga terus memperkuat sinergi dengan otoritas fiskal dan daerah dalam mengelola pasokan dan distribusi pangan guna meredam gejolak harga.
Pemulihan ekonomi yang terjadi setelah periode perlambatan global memang membawa optimisme, tetapi juga tantangan. BI menilai bahwa risiko inflasi dari sisi permintaan perlu diantisipasi sejak dini, terutama jika pemulihan berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Oleh karena itu, pemantauan data inflasi secara real-time menjadi krusial.
Selain itu, BI juga memperhatikan faktor eksternal seperti fluktuasi harga pangan global dan nilai tukar rupiah. Kenaikan harga komoditas internasional dapat berdampak pada harga domestik melalui jalur impor. Dengan demikian, kebijakan moneter harus responsif terhadap berbagai sumber tekanan inflasi.
Ke depan, BI berkomitmen untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan, yaitu sekitar 2,5 persen plus minus satu persen. Dengan pemantauan yang cermat dan langkah-langkah antisipatif, diharapkan pemulihan ekonomi dapat berjalan tanpa mengorbankan stabilitas harga. Masyarakat pun diharapkan tetap tenang karena pemerintah dan bank sentral berupaya menjaga keterjangkauan harga pangan.



