Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprioritaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Hingga saat ini, api belum sepenuhnya padam dan masih terdeteksi sejumlah titik asap di wilayah tersebut. Berdasarkan data BNPB, terdapat 21 titik api dengan luas lahan terbakar mencapai 92,5 hektare yang tersebar di Sumatera Selatan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa OKI menjadi perhatian utama karena kondisinya paling memprihatinkan. “Daerah yang kami prioritaskan adalah Kabupaten Ogan Komering Ilir, karena di sana belum sepenuhnya padam dan beberapa titik asap ada di kabupaten tersebut,” ujarnya di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Selain OKI, BNPB juga terus memantau perkembangan kebakaran di Kabupaten Muara Enim dan Banyuasin. Di kedua daerah tersebut, titik asap masih ditemukan meskipun operasi water bombing telah dilakukan. Pemantauan dilakukan untuk memastikan api dan asap dapat dikendalikan agar tidak meluas.
Penanganan karhutla di Sumsel dilakukan secara terpadu melalui satgas darat dan udara. Namun, operasi pemadaman menghadapi kendala berupa jarak pandang yang rendah akibat asap tebal. Kondisi ini membatasi waktu operasi penerbangan karena sinar matahari lebih cepat berkurang, sehingga armada udara memiliki waktu terbatas untuk melakukan pemadaman.
Hingga saat ini, petugas gabungan berhasil memadamkan lebih dari 24 hektare lahan dari total 92,5 hektare yang terbakar. Satgas darat mengerahkan 11.026 personel dan berhasil menangani lahan seluas 13 hektare. Sementara itu, operasi udara berlangsung selama 8 jam 11 menit dengan dukungan empat helikopter water bombing yang menjatuhkan 704.000 liter air, memadamkan lahan seluas 10,5 hektare.
BNPB juga melakukan operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengatasi karhutla. Sebanyak satu unit armada udara diterbangkan untuk menebarkan 1.000 kilogram garam selama lebih dari dua jam. Operasi tersebut menghasilkan hujan dengan intensitas ringan di area penyemaian, seperti diungkapkan oleh Berton.
Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan kerap terjadi pada musim kemarau. Upaya pemadaman terus dilakukan secara maksimal oleh berbagai pihak untuk mencegah meluasnya dampak, termasuk kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.




