Sebuah tulisan berjudul “Black Box Pesawat Pendidikan” yang beredar luas mengajak pembaca merenungkan hakikat pendidikan melalui metafora penerbangan. Tulisan itu mengingatkan bahwa kelas-kelas di sekolah adalah “black box” yang setiap hari terbuka, tempat seluruh kebijakan pendidikan mendarat dan anak-anak menjadi penumpangnya. Analisis ini menyoroti pentingnya memeriksa isi pendidikan, bukan sekadar tampilan administratifnya.
Penulis mengawali dengan filosofi black box pesawat yang justru berwarna oranye menyala. “Jangan menilai sesuatu hanya dari namanya. Periksa isinya,” tulisnya. Black box merekam data penerbangan dan percakapan kokpit, baru dicari setelah kecelakaan. Namun dalam pendidikan, black box itu bernama kelas VIII-A, VIII-B, IX-A, dan seterusnya. Di sanalah jargon-jargon pendidikan dari podium harus mendarat di papan tulis, dan anak-anak menjadi penumpang yang sesungguhnya.
Dalam metafora itu, kepala sekolah adalah kapten yang tidak harus selalu memegang kemudi. “Kapten yang baik justru harus mampu memastikan seluruh penerbangan berjalan menuju tujuan,” tulisnya. Kritik tajam ditujukan pada sekolah yang sibuk dengan rapat, spanduk, dokumen, dan grup WhatsApp, tetapi lupa bertanya apakah anak-anak benar-benar bertumbuh. Pertanyaan sederhana ini sering terlupakan karena jawabannya tidak bisa berbentuk tabel.
Guru adalah pilot di kokpit ruang kelas. Penulis mengingatkan bahwa menguasai materi belum tentu menguasai kelas. “Guru bisa saja pintar. Tetapi kepintaran guru tidak otomatis membuat murid menjadi pintar.” Contohnya, guru menjelaskan fotosintesis selama 40 menit, tetapi jika anak hanya menghafal definisi tanpa bertanya mengapa daun hijau atau bagaimana cahaya bekerja, pesawat pembelajaran hanya berputar-putar di atas bandara.
Pendidikan juga membutuhkan co-pilot, seperti wakil kepala sekolah, guru senior, orang tua, dan masyarakat. Yang lebih penting, anak harus belajar menjadi co-pilot atas hidupnya sendiri. “Kalau selama dua belas tahun sekolah seorang anak hanya diajari menunggu instruksi, menghafal jawaban, mengejar nilai, kemudian bertanya, ‘Pak, yang keluar ujian apa?’, kita mungkin perlu memeriksa black box,” tulisnya. Jangan sampai pesawat pendidikan terlalu lama mengajarkan anak menjadi penumpang.
Tulisan itu juga menyentuh kebijakan berbasis data. Indonesia kini memiliki Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang pada 2026 diikuti 98,12 persen peserta jenjang SD/MI dan SMP/MTs pada jadwal utama. Data Dapodik digunakan untuk SPMB 2026/2027, termasuk pengendalian jumlah murid per rombongan belajar. Namun penulis mengingatkan, “TKA merekam sebagian perjalanan, bukan seluruh kehidupan belajar anak.” Nilai tidak bisa menceritakan semuanya, dan manusia jauh lebih luas daripada angka.
Pada akhirnya, tulisan ini mengajak agar black box pendidikan tidak hanya berisi angka. “Jangan sampai black box pendidikan kita akhirnya hanya berisi angka,” tegasnya. Anak juga harus valid sebagai manusia, bukan sekadar data domisili, afirmasi, atau prestasi. Pendidikan yang berhasil seharusnya membuat anak bertumbuh, bukan sekadar tercatat di pintu keberangkatan.



