Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan menegaskan bahwa pendidikan berkualitas tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya dinikmati kelompok tertentu. Pernyataan itu disampaikan dalam sambutannya pada puncak perayaan HUT ke-28 PAN di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat malam, 18 September 2026. Menurutnya, tidak boleh ada diskriminasi dalam pendidikan karena pendidikan merupakan hak untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa.
“Pendidikan berkualitas tidak boleh menjadi kemewahan. Tidak boleh hanya menjadi milik mereka yang lahir di kota-kota besar, atau keluarga yang mampu saja. Tidak boleh ada diskriminasi dalam pendidikan. Pendidikan adalah hak untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa,” ujar Zulkifli Hasan di hadapan para kader dan tamu undangan, termasuk Presiden Prabowo Subianto yang hadir dalam acara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan dalam kerangka pertanyaan mengenai siapa yang akan memimpin Indonesia saat republik ini berusia 100 tahun pada 2045. Zulkifli menegaskan bahwa jawabannya ada pada generasi muda yang hari ini masih duduk di bangku sekolah dan kuliah. Masa depan Indonesia, menurutnya, ditentukan oleh perlakuan negara terhadap generasi muda saat ini. “Kuncinya adalah pendidikan, membangun kualitas manusia-manusia unggul, cerdas, inovatif, kreatif, dan mandiri. Generasi yang mencintai bangsa dan negaranya, generasi yang memiliki integritas pribadi yang kuat,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pemerataan akses pendidikan, Zulkifli menyatakan PAN mendukung program Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda Transformasi. Sekolah Rakyat yang dijalankan Kementerian Sosial saat ini beroperasi di 166 titik rintisan di 34 provinsi dengan 15.954 siswa dari keluarga desil satu dan dua. Pada 2026, program ini ditargetkan menerima lebih dari 32.000 siswa baru menuju target 500 sekolah pada 2029. Adapun Sekolah Garuda yang dijalankan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 116 Tahun 2025 telah menetapkan 42 SMA Unggul Garuda Transformasi hingga 2026, terdiri atas 12 sekolah pada 2025 dan 30 sekolah baru pada 2026, dengan target 80 sekolah pada 2029. Program ini juga menyalurkan Beasiswa Garuda kepada 379 penerima pada Gelombang I 2026 untuk melanjutkan studi sarjana di perguruan tinggi terbaik dunia.
Pada acara tersebut, Zulkifli juga memperkenalkan siswa SMA Kebangsaan yang hadir sebagai tamu undangan. Para siswa tersebut pernah bertugas sebagai Paskibraka dan seluruhnya menerima beasiswa dari PAN. Kehadiran mereka ditampilkan sebagai bentuk konkret keberpihakan partai pada akses pendidikan, di luar dukungan terhadap program pemerintah.
Zulkifli juga menyampaikan keluhan masyarakat mengenai tingginya biaya masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur mandiri. Menurutnya, laporan yang masuk kepada partai menyebut angka yang mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per mahasiswa. “Banyak anak-anak muda sekarang yang mendaftar di universitas negeri. Bayarannya mahal, Pak. Jalur mandiri bayarannya mahal. Tolong, Pak, mereka menyampaikan aspirasi bayaran mahal itu kalau bisa kita bisa koreksi. Karena harapan anak-anak muda kita tentu di kampus-kampus negeri,” ujarnya di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
Presiden Prabowo merespons pada malam yang sama dengan menyatakan akan segera menggelar rapat terbatas mengenai hal tersebut. Respons itu menjadi isyarat bahwa pemerintah akan menindaklanjuti keluhan soal biaya pendidikan tinggi yang dinilai memberatkan masyarakat. Dengan demikian, pernyataan Zulkifli tidak hanya menegaskan komitmen PAN terhadap pendidikan inklusif, tetapi juga mendorong perbaikan kebijakan yang lebih berpihak pada akses pendidikan bagi semua kalangan.

