Fenomena fatherless country, yaitu kondisi ketika banyak anak tumbuh tanpa kehadiran dan peran ayah yang memadai, menjadi sorotan dalam sebuah artikel yang mengusulkan pendekatan PERMA sebagai resep penyembuhan. Artikel berjudul ‘Menyembuhkan Fatherless Country dengan Resep PERMA’ ini menekankan pentingnya peran ayah dalam perkembangan anak, serta menawarkan kerangka psikologi positif untuk mengatasi persoalan tersebut.
Fatherless country merujuk pada situasi kolektif di mana sebagian besar anak mengalami ketiadaan figur ayah, baik karena perceraian, kematian, maupun ketidakhadiran emosional. Dampaknya dapat meliputi gangguan perilaku, rendahnya prestasi akademik, serta kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat. Isu ini menjadi perhatian karena menyangkut generasi penerus bangsa.
PERMA sendiri merupakan singkatan dari Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, dan Accomplishment, sebuah teori kesejahteraan yang dikembangkan oleh psikolog Martin Seligman. Pendekatan ini menekankan lima elemen penting yang dapat membantu individu mencapai kehidupan yang lebih bermakna dan bahagia. Dalam konteks fatherless country, resep PERMA dapat menjadi panduan untuk memulihkan kondisi psikologis anak yang kehilangan peran ayah.
Penerapan PERMA dapat dimulai dengan membangun emosi positif pada anak, seperti rasa aman dan optimisme. Selanjutnya, mendorong keterlibatan anak dalam aktivitas yang bermakna, misalnya kegiatan sekolah atau hobi, dapat meningkatkan rasa percaya diri. Memperkuat hubungan sosial dengan pengganti figur ayah, seperti kakek, paman, atau guru, juga penting untuk memberikan dukungan emosional. Memberikan makna hidup melalui nilai-nilai spiritual dan sosial, serta merayakan pencapaian kecil, membantu anak merasa dihargai dan termotivasi.
Selain pendekatan PERMA, diperlukan peran aktif dari ibu, keluarga besar, dan komunitas untuk menjadi pengganti sementara peran ayah. Dukungan emosional, pendidikan karakter, dan teladan positif dari lingkungan sekitar sangat berkontribusi pada tumbuh kembang anak. Kerja sama antara sekolah, masyarakat, dan pemerintah juga diperlukan untuk menciptakan ekosistem yang ramah bagi anak-anak tanpa ayah, misalnya melalui program mentoring atau konseling.
Dengan mengombinasikan resep PERMA dan dukungan sosial yang kuat, diharapkan fenomena fatherless country dapat diatasi secara bertahap. Anak-anak yang tumbuh tanpa peran ayah tetap memiliki fondasi psikologis yang kokoh, mampu menghadapi tantangan, dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Artikel ini menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak mendapatkan pengasuhan yang berkualitas, meskipun figur ayah tidak hadir secara utuh.

