Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 50.891 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang dipicu oleh asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode Juli hingga Agustus 2026. Angka ini diumumkan pada Selasa, 1 September 2026, melalui kanal resmi Kemenkes dan menjadi perhatian serius pemerintah dalam penanganan dampak kesehatan akibat bencana asap.
Menurut data yang dirilis, kasus ISPA tersebut tersebar di sejumlah provinsi yang mengalami karhutla, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang kerap menjadi titik panas. Kemenkes menyebut bahwa kabut asap yang dihasilkan dari pembakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus (PM2,5) yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru, sehingga memicu gangguan pernapasan akut, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, dalam keterangan tertulisnya, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak minum air putih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala seperti batuk, sesak napas, atau iritasi mata. Imbauan ini disampaikan seiring dengan meluasnya sebaran asap yang tidak hanya berdampak di sekitar titik api, tetapi juga hingga ke wilayah perkotaan.
Data Kemenkes juga menunjukkan bahwa puncak kasus ISPA terjadi pada akhir Agustus, seiring dengan meningkatnya intensitas karhutla yang dipicu oleh musim kemarau panjang dan praktik pembakaran lahan. Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah melakukan upaya pemadaman dan penegakan hukum, namun tantangan di lapangan masih besar karena luasnya area terbakar dan keterbatasan sumber daya.
Sebelumnya, Kemenkes juga telah menyiagakan posko kesehatan di daerah terdampak serta mendistribusikan masker dan obat-obatan untuk meringankan beban pasien. Meski demikian, lonjakan kasus ISPA ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat sistem deteksi dini dan respons cepat terhadap dampak kesehatan dari karhutla yang kerap terjadi setiap tahun.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi kualitas udara melalui aplikasi resmi dan mengikuti arahan dari petugas kesehatan setempat. Kemenkes berjanji akan terus memperbarui data dan melakukan langkah-langkah mitigasi untuk menekan angka kesakitan, seraya mendorong sinergi lintas sektor dalam pengendalian karhutla secara berkelanjutan.




