Para peternak ayam petelur di Indonesia menyambut positif kebijakan Menteri Pertanian (Mentan) yang berupaya menahan harga pakan dan meningkatkan penyerapan telur di pasaran. Langkah ini dinilai mampu meredam gejolak harga yang selama ini membebani usaha peternakan rakyat sekaligus menjaga stabilitas harga telur di tingkat konsumen.
Kebijakan tersebut diumumkan pada awal Agustus 2026, di tengah keluhan peternak mengenai melonjaknya biaya produksi akibat harga pakan yang terus naik. Mentan disebut telah menginstruksikan jajarannya untuk mengoptimalkan pasokan bahan baku pakan lokal serta mempercepat realisasi program penyerapan telur oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Bulog.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Peternakan Unggas (GPPU) menyatakan apresiasi atas respons cepat pemerintah. Menurutnya, intervensi harga pakan sangat krusial karena pakan menyumbang hingga 70 persen dari total biaya produksi telur. “Kami berterima kasih karena Mentan mendengar keluhan peternak. Dengan harga pakan yang ditahan, margin usaha kami bisa sedikit membaik,” ujarnya dalam keterangan pers.
Selain menahan harga pakan, pemerintah juga menggenjot penyerapan telur melalui program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP). Bulog ditargetkan menyerap telur dari peternak lokal dalam jumlah besar untuk didistribusikan ke daerah-daerah yang mengalami lonjakan harga. Langkah ini diharapkan dapat menjaga harga telur di tingkat peternak tetap menguntungkan, tanpa membebani konsumen.
Sejak awal tahun, harga telur ayam di tingkat peternak sempat turun drastis akibat kelebihan pasokan, sementara di sisi lain harga pakan justru naik karena ketergantungan pada impor jagung dan bungkil kedelai. Kondisi ini membuat banyak peternak kecil terancam gulung tikar. Kebijakan Mentan dinilai menjadi angin segar bagi industri perunggasan nasional.
Pengamat peternakan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menambahkan bahwa penyerapan telur oleh pemerintah harus dilakukan secara konsisten agar tidak hanya bersifat sementara. “Jika penyerapan berkelanjutan, peternak bisa merencanakan produksi dengan lebih pasti. Ini penting untuk menjaga ketahanan pangan protein hewani,” katanya.
Ke depan, para peternak berharap pemerintah tidak hanya fokus pada intervensi jangka pendek, tetapi juga memperbaiki tata niaga pakan dan memperkuat industri pakan lokal. Dengan demikian, harga pakan bisa lebih stabil dalam jangka panjang dan daya saing telur Indonesia semakin kuat.



