Jakarta – Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap aman meskipun harga minyak dunia kembali menembus level US$100 per barel. Pernyataan ini disampaikan pada Kamis, 10 September 2026, sebagai respons atas gejolak harga komoditas energi global yang berdampak pada postur fiskal Indonesia.
Menurut Purbaya, meskipun terjadi kenaikan harga minyak yang signifikan, pemerintah telah mengantisipasi risiko tersebut melalui berbagai instrumen fiskal. Ia memastikan defisit anggaran tetap berada di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sesuai dengan target yang ditetapkan dalam kerangka ekonomi makro. Hal ini menunjukkan ketahanan fiskal Indonesia dalam menghadapi tekanan eksternal.
Kenaikan harga minyak dunia biasanya berdampak pada meningkatnya belanja subsidi energi, terutama untuk bahan bakar minyak (BBM) dan listrik. Namun, Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan skema pengendalian, termasuk penyesuaian alokasi subsidi dan kompensasi yang lebih tepat sasaran. Ia menambahkan bahwa realisasi belanja negara masih sesuai dengan pagu yang direncanakan, sehingga ruang fiskal tetap terjaga.
Pernyataan ini muncul di tengah volatilitas pasar minyak yang dipicu oleh ketegangan geopolitik dan pemangkasan produksi oleh negara-negara OPEC+. Meski harga minyak sempat menyentuh US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Purbaya optimistis APBN tidak akan tertekan berlebihan. Ia menekankan bahwa pemerintah telah belajar dari krisis sebelumnya dan kini memiliki bantalan fiskal yang lebih kuat.
Lebih lanjut, Purbaya menyebutkan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak secara berkala. Jika diperlukan, akan dilakukan langkah-langkah penyesuaian, seperti optimalisasi penerimaan negara dari sektor migas dan pengendalian belanja yang tidak prioritas. Namun, ia menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk menambah utang baru secara signifikan karena defisit masih terkendali.
Ekonom menilai pernyataan Purbaya memberikan sinyal positif bagi pasar. Stabilitas fiskal menjadi kunci kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Dengan defisit di bawah 3 persen, pemerintah memiliki ruang untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan disiplin anggaran. Meski demikian, tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi tetap perlu diwaspadai, terutama terhadap daya beli masyarakat.
Pemerintah berkomitmen menjaga APBN sebagai instrumen utama dalam melindungi masyarakat dari dampak gejolak global. Langkah-langkah antisipatif yang telah disiapkan diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional, sekaligus memastikan program-program prioritas tetap berjalan sesuai target. Purbaya menutup dengan menegaskan bahwa APBN aman dan defisit tetap di bawah 3 persen, sesuai komitmen pemerintah.
