Gerakan Pramuka di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menyatakan kesiapannya untuk mengekspor daun salam ke luar negeri. Daun salam yang selama ini dikenal sebagai bumbu dapur ternyata memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional, mencapai Rp 1 juta per kilogram. Hal ini menjadi peluang ekonomi baru bagi anggota Pramuka dan masyarakat sekitar.
Potensi daun salam sebagai komoditas ekspor didorong oleh permintaan tinggi dari berbagai negara yang menggunakan daun salam sebagai bahan rempah, baik untuk kuliner maupun pengobatan tradisional. Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan harga di pasar domestik yang biasanya berkisar puluhan ribu rupiah per kilogram. Dengan selisih harga yang signifikan, ekspor daun salam dinilai menguntungkan.
Pramuka Banyumas, yang selama ini aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan pembinaan pemuda, melihat peluang ini sebagai cara untuk memberdayakan ekonomi anggotanya serta masyarakat petani di sekitar. Mereka berencana membangun jaringan pengumpulan dan pengolahan daun salam dari petani setempat, termasuk proses pengeringan dan pengemasan agar memenuhi standar ekspor.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan ekspor produk pertanian non-migas. Dengan dukungan pelatihan dan pendampingan dari dinas terkait, Pramuka diharapkan mampu memenuhi kualitas yang dipersyaratkan oleh pembeli internasional. Selain itu, kegiatan ini juga dapat menjadi sarana pendidikan kewirausahaan bagi generasi muda.
Meski belum dirinci lebih lanjut mengenai mitra dagang atau volume ekspor yang akan dikirim, kesiapan ini menjadi sinyal positif bagi pengembangan komoditas lokal. Ke depan, daun salam diharapkan dapat menjadi salah satu produk unggulan dari Kabupaten Banyumas yang dikenal sebagai daerah agraris. Dengan harga internasional yang tinggi, potensi ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani dan anggota Pramuka yang terlibat.

