BANYUMAS — Aksi penipuan dengan mencatut nama seorang bidan di Banyumas, Jawa Tengah, terungkap. Pelaku memasang foto praktik di aplikasi WhatsApp untuk menyamar sebagai bidan. Informasi ini diketahui dari judul pemberitaan yang menyebutkan modus tersebut. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai kronologi lengkap, identitas bidan, maupun jumlah korban.
Dalam modusnya, pelaku menggunakan foto yang menunjukkan praktik bidan. Foto itu dipasang di WhatsApp, platform pesan instan yang banyak digunakan masyarakat. Dengan cara itu, pelaku berupaya membuat profilnya tampak meyakinkan. Penipu mencatut nama bidan asal Banyumas tanpa izin. Tidak dijelaskan apakah pelaku juga menggunakan nomor telepon tertentu atau mengirim pesan kepada korban.
Banyumas merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Profesi bidan memiliki peran penting dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Karena kedekatan dengan masyarakat, identitas bidan sering dipercaya. Kondisi itu dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan aksi penipuan. Masyarakat diminta tidak langsung percaya pada akun yang mengaku sebagai tenaga kesehatan.
Penyalahgunaan identitas tenaga kesehatan dapat menimbulkan kerugian ganda. Korban berpotensi kehilangan uang atau data pribadi. Sementara bidan yang namanya dicatut bisa mengalami kerugian reputasi. Kasus serupa juga dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan. Oleh karena itu, verifikasi menjadi langkah penting sebelum bertransaksi atau memberikan informasi pribadi.
WhatsApp memiliki fitur verifikasi centang hijau untuk akun bisnis tertentu, tetapi tidak semua pengguna memeriksa. Penipu sering memanfaatkan kelengahan pengguna. Foto profil yang terlihat profesional dapat meningkatkan kepercayaan. Karena itu, pengguna perlu waspada terhadap akun yang tidak dikenal.
Untuk menghindari penipuan, masyarakat disarankan memeriksa nomor dan akun secara cermat. Pastikan identitas bidan sesuai dengan data resmi. Jangan mudah tergiur janji atau permintaan yang tidak wajar. Laporkan akun mencurigakan kepada pihak berwenang atau platform WhatsApp. Hingga kini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai perkembangan kasus penipuan yang mencatut nama bidan Banyumas tersebut.
Kasus di Banyumas ini menjadi pengingat bahwa kejahatan digital terus berkembang. Modusnya bisa beragam, mulai dari penipuan jual beli hingga penggalangan dana palsu. Masyarakat diharapkan selalu berpikir kritis. Jika ragu, tanyakan langsung kepada lembaga atau tenaga kesehatan resmi.




