Puluhan ibu-ibu menggeruduk Balai Desa Gandu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, untuk menyampaikan protes. Mereka menolak rencana penurunan kompensasi sumur minyak rakyat yang selama ini menjadi penopang ekonomi warga setempat. Aksi ini berlangsung dengan damai namun menunjukkan kekhawatiran mendalam terhadap kelangsungan mata pencaharian mereka.
Para ibu-ibu tersebut datang bersama-sama dengan membawa aspirasi agar pemerintah desa tidak menyetujui penurunan nilai kompensasi yang telah disepakati sebelumnya. Mereka menilai kompensasi tersebut merupakan hak warga yang harus dipertahankan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih sulit. Kehadiran mereka di balai desa menjadi bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang dinilai merugikan masyarakat kecil.
Sumur minyak rakyat di Blora merupakan sumur tradisional yang dikelola oleh warga secara turun-temurun. Keberadaannya telah lama menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga di Desa Gandu dan sekitarnya. Kompensasi yang diterima warga biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan, dan modal usaha kecil. Oleh karena itu, rencana penurunan kompensasi dianggap sebagai ancaman serius bagi kesejahteraan mereka.
Dalam aksi tersebut, para ibu-ibu mendesak agar pihak desa dan perusahaan terkait melakukan musyawarah dengan melibatkan warga sebelum mengambil keputusan. Mereka meminta agar tidak ada keputusan sepihak yang mengabaikan aspirasi masyarakat. Beberapa perwakilan warga menyampaikan bahwa penurunan kompensasi akan berdampak langsung pada kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pemerintah desa maupun perusahaan mengenai rencana penurunan kompensasi tersebut. Namun, aksi protes ini menjadi sinyal kuat bahwa warga tidak akan tinggal diam jika hak-hak mereka dikurangi. Para ibu-ibu berharap pemerintah daerah turun tangan untuk memediasi persoalan ini agar ditemukan solusi yang adil dan tidak merugikan masyarakat.
Aksi geruduk balai desa ini menjadi catatan penting bagi pemerintah Kabupaten Blora untuk lebih memperhatikan nasib warga yang menggantungkan hidup pada sumur minyak rakyat. Ke depannya, diharapkan ada komunikasi yang lebih transparan antara warga, desa, dan perusahaan agar konflik serupa tidak terulang. Warga pun berharap agar kompensasi yang selama ini diterima tetap dipertahankan demi kelangsungan hidup mereka.

