Ratusan anak muda dan pegiat literasi memadati halaman Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Banyumas sejak Senin pagi, 14 September 2026. Mereka menyerbu gelaran Festival Literasi Banyumas 2026 yang menyajikan tontonan film mini teater, pameran buku, hingga pertunjukan seni secara gratis.
Ajang edukasi terbesar di daerah ini tidak sekadar menjadi tempat pameran buku biasa. Panitia merancang kegiatan ini sebagai panggung pembuktian bagi generasi muda untuk berani bermimpi dan berkarya pada era digital. Kegiatan edukatif tersebut dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 14 hingga 16 September 2026.
Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Kabupaten Banyumas menyajikan rangkaian agenda yang beragam. Pengunjung dapat menikmati stan pegiat literasi, pertunjukan seni, hingga sesi bedah buku dan talkshow. Topik yang diangkat pun relevan, mulai dari parenting, public speaking, hingga penanganan bullying di era digital.
Selain menghadirkan panggung hiburan dan diskusi, Dinarpusda Banyumas meluncurkan program unggulan berupa 1.000 Titik Perpustakaan Digital atau Tugu Baca. Program strategis ini terealisasi sepenuhnya tanpa menggunakan anggaran APBD. “Program ini direalisasikan tanpa menggunakan APBD, melainkan melalui sinergi dan dukungan berbagai pemangku kepentingan seperti Bank Indonesia, Telkom, Universitas Terbuka, Bank Jateng, serta mitra lainnya,” ungkap Kepala Dinarpusda Kabupaten Banyumas, Agus Anggraito.
Petugas akan menempatkan fasilitas Tugu Baca di berbagai titik keramaian publik. Fasilitas ini tidak hanya menyediakan ribuan koleksi buku digital, tetapi juga memuat beragam konten edukatif yang kaya manfaat bagi warga.
Hadir dalam pembukaan acara, Wakil Bupati Banyumas Dwi Asih Lintarti menegaskan pentingnya literasi dalam kehidupan masyarakat saat ini. Ia memandang kebiasaan membaca sebagai sarana penyaring informasi yang paling ampuh di tengah maraknya hoaks. “Tantangan kita adalah bagaimana memilih informasi yang benar, memahami dengan baik, dan tidak mudah percaya atau menyebarkan sesuatu sebelum kita mengetahui kebenarannya. Di sinilah pentingnya literasi,” tegas Dwi Asih Lintarti saat memberikan sambutan.
Lintarti mengimbau masyarakat untuk membangun budaya belajar secara alami melalui langkah-langkah kecil dari rumah. Langkah sederhana ini dapat dimulai dengan membiasakan diri membaca beberapa halaman buku setiap hari bersama keluarga. “Melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana, seperti membaca beberapa halaman sehari, mengajak anak membaca, atau menuliskan gagasan, budaya belajar yang kuat akan terbangun secara alami. Langkah ini menjadi kunci lahirnya generasi muda Banyumas yang berkarakter, berani bermimpi, dan siap berkontribusi bagi bangsa,” tuturnya.




