KARANGLEWAS – Puluhan siswa kelas 5 SDN 1 Kediri, Korwilcam Dindik Karanglewas, Kabupaten Banyumas, mengikuti pembelajaran di luar kelas pada Rabu (9/9/2026). Mereka diajak langsung ke lingkungan sekitar sekolah untuk belajar membuat tempe mendoan bersama perajin lokal. Kegiatan ini tidak sekadar kunjungan, tetapi menjadi pengalaman belajar langsung yang mempertemukan siswa dengan proses produksi makanan tradisional khas Banyumas.
Dengan penuh rasa ingin tahu, para siswa menyaksikan dan mencoba tahapan pembuatan tempe yang nantinya akan diolah menjadi mendoan dalam kegiatan Cooking Day yang diselenggarakan sekolah. Kunjungan edukatif ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami bahwa makanan tradisional membutuhkan proses dan keterampilan sebelum sampai ke meja makan. Mereka diperkenalkan pada bahan utama berupa biji kedelai serta berbagai tahapan pengolahan, mulai dari perebusan kedelai, penirisan, pemberian ragi, hingga pembungkusan.
Setiap tahapan dilakukan dengan memperhatikan cara kerja perajin. Penggunaan daun pisang sebagai pembungkus menjadi bagian menarik bagi siswa karena memperlihatkan bagaimana bahan-bahan sederhana di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pangan tradisional. Pengalaman tersebut sekaligus memperkaya pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata. Antusiasme siswa terlihat ketika mereka mempraktikkan langsung pembungkusan tempe menggunakan daun pisang.
Kegiatan belajar bersama perajin lokal mendapat apresiasi dari Kepala SDN 1 Kediri, Candra Septo Rinoaji, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, pembelajaran di luar kelas seperti ini merupakan bentuk pembelajaran kontekstual yang dapat membuat siswa lebih mudah memahami materi melalui pengalaman langsung. Kolaborasi dengan perajin di sekitar sekolah juga dinilai sejalan dengan penerapan kerangka Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), terutama pada dimensi kemitraan.
“Sekolah kami terus berkomitmen untuk memperluas kemitraan dengan berbagai pihak guna mendukung proses belajar mengajar murid yang relevan dan bermakna. Salah satunya adalah membangun kolaborasi dengan perajin tempe mendoan di sekitar sekolah. Pembelajaran seperti ini memberikan pengalaman langsung (hands-on experience) yang tidak hanya mengasah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap kearifan lokal,” ujar Candra.
Setelah proses pembungkusan selesai, tempe hasil karya siswa kelas 5 akan memasuki masa fermentasi selama dua hari. Jika proses berjalan baik, tempe tersebut direncanakan dipanen pada Jumat (11/9/2026). Tahap ini menjadi bagian menarik karena siswa akan kembali melihat hasil dari proses yang sebelumnya mereka kerjakan. “Hasil karya pembungkusan tempe siswa akan dipanen pada Jumat (11/9/2026) setelah melalui proses fermentasi selama dua hari. Tempe tersebut selanjutnya akan menjadi bagian dari Cooking Day Festival Makanan Tradisional Khas Banyumas,” demikian rangkaian kegiatan yang disiapkan SDN 1 Kediri.
Pada acara puncak, para siswa akan mengolah tempe hasil karya mereka sendiri menjadi mendoan hangat untuk dinikmati bersama. Kegiatan ini menjadi perpaduan antara pembelajaran, kreativitas, keterampilan, dan pelestarian kuliner lokal. Melalui pengalaman dari kedelai hingga mendoan, siswa tidak hanya belajar membuat makanan, tetapi juga diajak mengenal dan menghargai kearifan lokal Banyumas yang dekat dengan kehidupan mereka.

