Penghentian operasi Bus Trans Banyumas yang melayani rute di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, memberikan dampak positif bagi para sopir angkutan kota (angkot). Sejak bus trans tidak beroperasi, jumlah penumpang angkot meningkat karena warga beralih menggunakan moda transportasi tersebut.
Bus Trans Banyumas merupakan layanan transportasi umum yang dioperasikan oleh pemerintah daerah untuk memudahkan mobilitas warga. Selama beroperasi, bus trans menjadi pesaing utama angkot karena tarifnya yang murah dan fasilitas yang lebih nyaman. Banyak warga Purwokerto yang sebelumnya memilih bus trans untuk beraktivitas sehari-hari.
Namun, dengan berhentinya operasi bus trans, para pengguna bus trans kini harus mencari alternatif lain. Angkot yang selama ini tersedia di berbagai rute menjadi pilihan utama. Hal ini membuat para sopir angkot kembali kebanjiran penumpang. Sejumlah sopir angkot di Purwokerto mengaku senang dengan kondisi ini karena pendapatan mereka meningkat dibandingkan saat bus trans masih beroperasi.
Meski demikian, penghentian bus trans juga menimbulkan masalah bagi warga yang bergantung pada layanan tersebut. Mereka harus menyesuaikan diri dengan angkot yang mungkin lebih lambat atau kurang nyaman. Beberapa warga berharap pemerintah segera mencari solusi agar transportasi umum tetap berjalan dengan baik dan terintegrasi.
Pemerintah Kabupaten Banyumas belum memberikan keterangan resmi mengenai alasan penghentian operasi bus trans. Namun, diharapkan ada kejelasan agar masyarakat tidak kebingungan dalam memilih moda transportasi. Sementara itu, para sopir angkot berharap kondisi ini bisa bertahan, dan mereka juga meminta pemerintah untuk memperhatikan keberadaan angkot sebagai bagian dari transportasi umum yang melayani masyarakat.

