Dinas Pendidikan Kota Semarang resmi meluncurkan platform digital bernama Kombel Tugu Muda sebagai ruang belajar dan kolaborasi bagi para guru. Peluncuran tersebut dilakukan oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang, Drs. Ali Sofyan, M.M., yang hadir mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang. Momentum ini menandai dimulainya pemanfaatan platform yang dirancang untuk mendukung aktivitas komunitas belajar guru secara lebih mudah, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Kehadiran Kombel Tugu Muda tidak semata-mata sebagai pengembangan layanan berbasis teknologi. Platform ini membawa gagasan untuk membangun lingkungan belajar yang memungkinkan guru saling terhubung dan bertukar pengalaman tanpa harus selalu bergantung pada kegiatan pelatihan formal. Di tengah perubahan dunia pendidikan yang cepat, guru dituntut untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan, termasuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial.
Komunitas belajar menjadi ruang penting bagi guru untuk berkembang. Proses belajar tidak selalu harus melalui seminar, lokakarya, atau pelatihan terjadwal. Pengetahuan dapat tumbuh dari percakapan antarguru, diskusi tentang persoalan pembelajaran, pertukaran pengalaman, hingga praktik baik yang lahir dari proses mencoba dan memperbaiki pembelajaran di kelas. Kombel Tugu Muda berupaya menghubungkan berbagai aktivitas tersebut melalui ruang digital yang dapat diakses guru kapan saja.
Platform ini menyediakan berbagai fitur, antara lain kegiatan pengembangan kompetensi, akses LMS Kombel Tugu Muda, layanan konsultasi melalui Klinik GTK, serta materi terkait Koding dan Kecerdasan Artifisial. Guru juga dapat membagikan praktik baik yang telah diterapkan, sehingga pengalaman individual dapat menjadi sumber pembelajaran bagi rekan sejawat. Selain itu, tersedia bank sertifikat otomatis dan dashboard monitoring untuk membantu pengelolaan aktivitas komunitas belajar secara lebih terarah.
Kabid Pembinaan GTK Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dr. Miftahudin, S.Pd., M.Si., menekankan bahwa penggunaan teknologi dalam pendidikan tidak boleh menghilangkan unsur manusia sebagai pusat proses. Menurutnya, teknologi tidak hanya untuk mempercepat pekerjaan administratif, tetapi juga untuk membuka ruang komunikasi, memperluas kesempatan belajar, dan memperkuat hubungan antarguru. “Mari kita jadikan Kombel Tugu Muda sebagai ruang untuk terus belajar dan berbagi. Ketika guru berkembang bersama, maka kualitas pembelajaran dan pendidikan juga akan berkembang,” ujarnya.
Koordinator Kombel Tugu Muda, Slamet Hari Pambudi, S.Pd., mengatakan platform ini berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan ruang belajar yang mudah dijangkau guru. Ia berharap Kombel Tugu Muda bukan sekadar aplikasi, melainkan rumah bersama bagi guru Kota Semarang untuk belajar, berbagi, berkolaborasi, dan tumbuh bersama. “Kami ingin membangun budaya bahwa guru tidak berjalan sendirian. Saat ada kesulitan, tersedia ruang untuk bertanya. Saat ada gagasan, ada tempat untuk berdiskusi. Dan ketika ada praktik baik, ada kesempatan untuk membagikannya agar dapat menginspirasi guru lainnya,” jelasnya.
Nama Tugu Muda merupakan singkatan dari Transformasi untuk Guru Menuju Unggul dan Berbudaya. Identitas ini menjadi landasan semangat pengembangan komunitas belajar yang menempatkan transformasi guru sebagai bagian penting dalam peningkatan mutu pendidikan. Aplikasi ini dikembangkan oleh Slamet Hari Pambudi, Galih Suci Pratama Tegar Arenanda, dan Herry Erwanto. Pengembangan platform tersebut menunjukkan bahwa inovasi pendidikan dapat tumbuh melalui kolaborasi, dengan mempertimbangkan kebutuhan nyata komunitas belajar guru di Kota Semarang.

