Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kecamatan Karangpucung tahun 2026 digelar di SD Negeri Karangpucung 01. Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi perwakilan sekolah dasar se-Kecamatan Karangpucung dan bertujuan untuk memperkenalkan serta menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Jawa di kalangan generasi muda.
Dalam festival tersebut, dipertandingkan tujuh cabang lomba yang meliputi Menulis dan Membaca Aksara Jawa, Mendongeng, Berpidato, Menulis Cerita Pendek atau Cerkak, Membaca Geguritan, Nembang Macapat, serta Komedi Tunggal atau Ndahgel Ijen. Ragam perlombaan ini memberikan warna tersendiri, karena peserta tidak hanya dituntut menguasai kemampuan berbahasa Jawa secara lisan dan tulisan, tetapi juga diajak mengembangkan kreativitas dan keberanian dalam menampilkan seni serta sastra daerah.
Korwil Kecamatan Karangpucung, Ikmal, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa FTBI memiliki peran penting dalam menanamkan kecintaan terhadap bahasa daerah sejak usia dini. “Melalui kegiatan ini, kami berharap anak-anak semakin mengenal, mencintai, dan bangga menggunakan bahasa Jawa sebagai bagian dari identitas dan budaya daerah,” ujarnya. Menurut Ikmal, pengenalan bahasa Jawa tidak cukup hanya melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi anak-anak juga membutuhkan ruang untuk mempraktikkan bahasa tersebut dalam suasana yang menyenangkan, kompetitif, dan kreatif.
Ketua K3S Kecamatan Karangpucung, Fitra Dedy Prayitno, menilai FTBI memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar ajang mencari juara. “Kami berharap FTBI dapat melahirkan generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap pelestarian bahasa dan budaya daerah. Kegiatan seperti ini diharapkan terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi pelestarian bahasa Jawa di kalangan generasi muda,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa keberlangsungan bahasa Jawa membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari sekolah, guru, orang tua, masyarakat, hingga generasi muda itu sendiri.
Selain kemampuan berbahasa, FTBI juga mengandung nilai pendidikan karakter. Peserta belajar mengenai keberanian, kedisiplinan, tanggung jawab, sportivitas, serta kemampuan menghargai karya dan penampilan peserta lain. Melalui cabang Aksara Jawa, peserta diperkenalkan kembali dengan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai historis. Sementara mendongeng, berpidato, geguritan, macapat, hingga ndahgel ijen menjadi media untuk menggunakan bahasa Jawa secara aktif dan kreatif.
Suasana kompetisi berlangsung dengan semangat. Setiap peserta berusaha menampilkan kemampuan terbaik sesuai cabang lomba yang diikuti. Penampilan mereka menunjukkan bahwa bahasa Jawa dapat dikemas dalam bentuk yang menarik dan dekat dengan dunia anak. Keberadaan cabang Ndahgel Ijen menjadi contoh bagaimana bahasa Jawa digunakan dalam format yang lebih kekinian, sementara macapat dan geguritan tetap memberikan ruang bagi peserta untuk mengenal kekayaan sastra dan seni tradisional Jawa.
Lebih dari sekadar perlombaan, FTBI Kecamatan Karangpucung tahun 2026 menjadi momentum untuk kembali mengingatkan pentingnya bahasa Jawa sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga membawa nilai, tata krama, sejarah, dan identitas masyarakat. Melalui kegiatan ini, peserta didik diajak memahami bahwa mencintai budaya dapat dimulai dari hal sederhana, salah satunya dengan mengenal dan menggunakan bahasa daerah dengan baik. Komitmen untuk menjaga bahasa Jawa juga membutuhkan keberlanjutan, dan kegiatan serupa diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan festival, tetapi dapat dilanjutkan melalui pembiasaan penggunaan bahasa Jawa di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.




