Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa guru tidak seharusnya terlibat dalam pengurusan ompreng atau kemasan makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah kesempatan pada Jumat, 7 Agustus 2026, dan dilaporkan oleh CNN Indonesia.
Menurut pejabat BGN tersebut, tugas utama guru adalah mendidik dan mengajar, bukan mengelola logistik distribusi makanan. Ia menilai keterlibatan guru dalam urusan ompreng dapat mengganggu fokus mereka terhadap proses belajar mengajar di sekolah.
Program MBG sendiri merupakan inisiatif pemerintah untuk menyediakan makanan bergizi bagi siswa di berbagai jenjang pendidikan. Dalam pelaksanaannya, ompreng atau wadah makanan sering digunakan untuk mengemas porsi makan siswa. Namun, Kepala BGN menekankan bahwa pengelolaan ompreng sebaiknya ditangani oleh petugas khusus atau pihak ketiga yang ditunjuk, bukan guru.
Pernyataan ini muncul di tengah diskusi mengenai beban administratif dan operasional yang kerap dirasakan tenaga pendidik. Sejumlah pihak sebelumnya menyoroti bahwa guru sering kali mendapat tugas tambahan di luar fungsi mengajar, termasuk mengurus distribusi bantuan pangan. Kepala BGN berharap pernyataannya dapat menjadi acuan bagi kebijakan ke depan agar guru dapat lebih fokus pada peran utamanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Kementerian Pendidikan maupun pihak terkait lainnya. CNN Indonesia masih menunggu konfirmasi lebih lanjut mengenai detail pernyataan dan tindak lanjut yang akan diambil. Program MBG sendiri terus berjalan dengan evaluasi berkala untuk memastikan efektivitasnya dalam meningkatkan gizi anak sekolah.



