• Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy
Friday, September 18, 2026
portalberitakita.com
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Daerah
  • Teknologi
  • Hiburan
  • Olahraga
portalberitakita.com
No Result
View All Result

El Nino Untungkan Petani Garam Cirebon, Produksi Capai 600 Ton

by reporter
August 7, 2026
in Daerah
0

Fenomena El Nino yang memicu kekeringan berkepanjangan di sebagian besar wilayah Indonesia justru membawa berkah bagi para petani garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Musim kemarau yang lebih panjang dan suhu udara yang tinggi meningkatkan produksi garam lokal hingga mencapai 600 ton. Keuntungan ini dinikmati para petani garam di pesisir utara Jawa Barat yang menggantungkan hidup dari penguapan air laut.

El Nino adalah fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada perubahan pola cuaca global. Di Indonesia, El Nino biasanya menyebabkan musim kemarau lebih kering dan lebih panjang dari normal. Bagi petani garam, kondisi ini justru ideal karena proses kristalisasi garam sangat bergantung pada sinar matahari dan angin yang stabil. Tanpa hujan yang mengganggu, air laut di tambak dapat menguap lebih cepat dan menghasilkan kristal garam berkualitas.

Para petani garam di Cirebon, yang sebagian besar mengelola tambak tradisional, melaporkan peningkatan hasil panen secara signifikan. Produksi garam yang mencapai 600 ton tersebut merupakan angka yang cukup tinggi dibandingkan musim-musim sebelumnya. Biasanya, produksi garam di daerah ini sering terhambat oleh datangnya hujan di tengah musim kemarau, yang dapat merusak kristal garam yang sudah terbentuk. Dengan El Nino, risiko tersebut berkurang drastis.

Proses produksi garam dimulai dengan memompa air laut ke petak-petak tambak yang telah disiapkan. Air kemudian dibiarkan menguap secara bertahap melalui serangkaian kolam penguapan. Setelah kadar garam mencapai titik jenuh, kristal garam mulai terbentuk dan siap dipanen. Petani biasanya memanen garam setiap beberapa hari sekali, tergantung pada kondisi cuaca. Pada musim kemarau ekstrem seperti saat El Nino, siklus panen bisa lebih sering dilakukan.

Kabupaten Cirebon dikenal sebagai salah satu sentra produksi garam di Jawa Barat, bersama dengan Indramayu dan Karawang. Garam dari Cirebon biasanya digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan industri kecil. Dengan produksi yang melimpah, pasokan garam di pasar lokal diperkirakan akan meningkat, yang pada gilirannya dapat menstabilkan harga. Namun, petani juga perlu waspada terhadap potensi penurunan harga jika pasokan berlebihan.

Meskipun El Nino membawa berkah bagi petani garam, fenomena ini juga menimbulkan dampak negatif di sektor lain, seperti pertanian tanaman pangan yang membutuhkan air. Kekeringan dapat menyebabkan gagal panen pada padi dan palawija. Oleh karena itu, petani garam di Cirebon bersyukur atas kondisi yang mendukung produksi mereka, namun tetap berharap agar keseimbangan cuaca dapat terjaga untuk keberlanjutan usaha mereka di masa depan.

Previous Post

Bank Jago Catat 3,6 Juta Pengguna, 24 Persen Nasabah Aktif Berinvestasi

Next Post

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp17.935 per Dolar AS pada Jumat Pagi

reporter

reporter

Next Post

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp17.935 per Dolar AS pada Jumat Pagi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plugin Install : Widget Tab Post needs JNews - View Counter to be installed
  • Trending
  • Comments
  • Latest

12 Merek Beras Fortifikasi Ditarik dari Peredaran

September 18, 2026

Jakarta Selatan Perluas Penghijauan untuk Tekan Polusi dan Perbaiki Kualitas Udara

September 18, 2026

Pegawai Disdukcapil Semarang Diduga Terlibat Pembuatan KTP Palsu, Tarif Rp500 Ribu

September 18, 2026
portalberitakita.com

Copyright © 2026 Portal Berita Kita. All rights reserved.

Navigate Site

  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home

Copyright © 2026 Portal Berita Kita. All rights reserved.