• Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy
Sunday, November 1, 2026
portalberitakita.com
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Daerah
  • Teknologi
  • Hiburan
  • Olahraga
portalberitakita.com
No Result
View All Result

Wiwi Parluki Ubah Dokumentasi Sekolah Jadi Ruang Digital Berbasis Google Sites

by reporter
October 5, 2026
in Teknologi
0

Wiwi Parluki mengembangkan sebuah aplikasi berbasis Google Sites yang berfungsi sebagai ruang digital untuk mendokumentasikan hasil kerja sekolah. Gagasan dan praktik tersebut dituangkan dalam sebuah makalah yang dipresentasikan pada Simposium Nasional tahun 2019. Aplikasi yang lahir dari kebutuhan sederhana di Banyumas itu menariknya masih digunakan hingga sekarang, menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus berupa teknologi yang rumit.

Gagasan tersebut berangkat dari kondisi bahwa menjadi kepala sekolah bukan hanya berkaitan dengan memimpin pembelajaran. Berbagai program harus direncanakan, dilaksanakan, didokumentasikan, dan dilaporkan. Hal serupa juga dirasakan pengawas yang harus mengelola berbagai data hasil pembinaan dan pemantauan sekolah. Dari kondisi itu muncul pertanyaan bagaimana dokumentasi dapat dibuat lebih praktis, tetapi pada saat yang sama mampu memberikan gambaran mengenai perkembangan sekolah.

Aplikasi tersebut tidak dirancang sekadar menjadi tempat menyimpan berbagai berkas. Dokumentasi yang terkumpul diarahkan menjadi bagian dari perjalanan sekolah sehingga kepala sekolah dapat melihat program yang telah dilakukan, perkembangan kegiatan, hingga capaian yang berhasil diraih. “Dokumentasi jangan hanya dipandang sebagai kewajiban untuk membuat laporan. Kalau dikelola dengan baik, dokumentasi bisa menjadi gambaran perjalanan sekolah dan membuat kita melihat kembali apa yang sudah dilakukan,” demikian gagasan Wiwi dalam praktik pengembangan aplikasi tersebut.

Keberadaan ruang digital itu membuat dokumentasi menjadi lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari. Kegiatan yang dilakukan sekolah dapat direkam dan ditata sehingga tidak hanya muncul ketika sekolah membutuhkan bukti administrasi. Bagi kepala sekolah, kondisi tersebut dapat membantu dalam menata bukti kinerja, melihat perkembangan program, dan melakukan refleksi. Berbagai kegiatan yang selama ini berjalan dalam kesibukan sekolah memiliki jejak yang dapat ditinjau kembali.

“Ketika pekerjaan sekolah terdokumentasi, kita bisa melihat bahwa banyak hal yang sebenarnya sudah dilakukan. Hal itu dapat memberikan rasa terbantu sekaligus semangat karena hasil kerja sekolah terlihat,” ungkap Wiwi. Tujuan utama pengembangan aplikasi tersebut adalah memotivasi kepala sekolah dan pengawas agar konsisten menjalankan tugas. Semangat tersebut diharapkan kemudian dapat menjalar kepada guru, siswa, orang tua, serta seluruh warga sekolah. Ketika program sekolah terlihat dan perkembangan kegiatan dapat dipantau, guru juga memperoleh dorongan untuk terus berkarya, begitu pula siswa yang dapat melihat kegiatan dan prestasi mereka mendapatkan perhatian.

Teknologi dalam praktik tersebut bukan ditempatkan sebagai tujuan akhir. Aplikasi hanyalah sarana, sementara perubahan tetap bergantung pada orang-orang yang menggunakannya. Kepala sekolah yang tekun mendokumentasikan kegiatan, guru yang konsisten menjalankan program, pengawas yang memberikan pendampingan, serta siswa yang terus mengembangkan potensi menjadi bagian dari terbentuknya budaya digital di sekolah. “Aplikasi ini sebenarnya hanya alat. Yang membuatnya berarti adalah orang-orang yang menggunakannya. Kalau kepala sekolah, guru, dan siswa mau memanfaatkannya, teknologi dapat menjadi bagian dari budaya positif di sekolah,” kata Wiwi.

Pengembangan aplikasi tersebut juga membuka peluang belajar bagi kepala sekolah dan pengawas. Pemanfaatan teknologi mendorong mereka untuk mencoba cara baru dalam menyelesaikan persoalan pekerjaan pendidikan. Dari proses tersebut tumbuh pula semangat kewirausahaan yang dimaknai sebagai keberanian mengenali persoalan, mencari solusi, dan menghasilkan karya yang bermanfaat. “Kalau kita menemukan masalah di lapangan, jangan berhenti pada masalahnya. Kita bisa mencoba mencari solusi, belajar teknologi, kemudian membuat sesuatu yang bisa digunakan untuk membantu pekerjaan,” ujarnya. Praktik tersebut semakin relevan ketika dunia pendidikan menghadapi perubahan besar, termasuk pandemi Covid-19, yang mengubah banyak kebiasaan dalam pembelajaran dan pengelolaan sekolah sekaligus memperkuat kebutuhan terhadap pemanfaatan teknologi.

Keberlanjutan aplikasi yang dikembangkan pada 2019 itu menunjukkan bahwa sebuah inovasi dapat bertahan apabila mampu menjawab kebutuhan nyata penggunanya. “Inovasi tidak harus rumit. Yang penting adalah menjawab kebutuhan. Kalau sebuah aplikasi memang membantu pekerjaan, kemudian terus digunakan, berarti inovasi tersebut memiliki manfaat yang dirasakan oleh penggunanya,” tutur Wiwi. Bagi pengawas, praktik tersebut menjadi pembelajaran bahwa pendampingan sekolah tidak selalu harus dimulai dengan memberikan solusi yang besar. Mendengarkan persoalan yang dihadapi sekolah kemudian mencari jalan keluar yang sesuai dengan kondisi lapangan dapat menjadi bagian dari proses pendampingan. Dari Banyumas, pengalaman Wiwi Parluki menunjukkan bahwa digitalisasi sekolah dapat dimulai dari kebutuhan sederhana, dan beban dokumentasi yang semula terasa sebagai pekerjaan administratif justru dapat menjadi titik awal untuk menciptakan sistem yang lebih tertata.

Previous Post

Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Euforia di Alun-Alun Pati Berlangsung Dramatis

Next Post

Festival Kuliner Njajan Fest 3X di Rembang Catat Omzet Rp2,56 Miliar

reporter

reporter

Next Post

Festival Kuliner Njajan Fest 3X di Rembang Catat Omzet Rp2,56 Miliar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plugin Install : Widget Tab Post needs JNews - View Counter to be installed
  • Trending
  • Comments
  • Latest

BRI Raih Dua Penghargaan dalam Bisnis Indonesia Financial Awards 2026

October 17, 2026

Sekolah Rakyat Jangkau 44 Ribu Anak di 182 Titik, Kemensos Gelar Open House Serentak

October 17, 2026

PGRI Jateng Diminta Perjuangkan P3K Jadi PNS dan Nasib Guru Wiyata Bakti

October 17, 2026
portalberitakita.com

Copyright © 2026 Portal Berita Kita. All rights reserved.

Navigate Site

  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home

Copyright © 2026 Portal Berita Kita. All rights reserved.