• Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy
Sunday, November 1, 2026
portalberitakita.com
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Daerah
  • Teknologi
  • Hiburan
  • Olahraga
portalberitakita.com
No Result
View All Result

Sekolah Makin Digital, Guru Dibebani Aplikasi Asesmen, Pembelajaran Belum Tentu Berubah

by reporter
October 2, 2026
in Nasional
0

Dunia pendidikan Indonesia kembali dihadapkan pada persoalan yang gejalanya mudah dikenali: sekolah diklaim semakin digital, guru semakin sibuk, sementara murid belum tentu paham. Berbagai perangkat dan aplikasi asesmen daring kini hadir di sekolah, mulai dari papan cerdas interaktif hingga platform digital, namun kesiapan sumber daya manusia dinilai belum mengikuti laju perubahan itu. Akibatnya, beban kerja guru bertambah, sementara tujuan utama pembelajaran belum tentu tercapai.

Gejala itu paling jelas terlihat ketika seorang guru diminta membuka sebuah aplikasi. Pertanyaan yang muncul justru soal cara mengoperasikannya. Bisa jadi yang bertanya adalah guru senior yang sudah puluhan tahun mengajar, melewati pergantian kurikulum berkali-kali, mengganti kapur dengan spidol, lalu papan tulis dengan layar. Kini ia harus bersahabat dengan kata sandi, tautan, kode QR, peramban, papan kendali, serta beragam istilah yang kadang lebih panjang daripada nama materi pelajaran yang ia ajarkan. Ia bukan tidak mau belajar, melainkan sedang menghadapi dunia yang berubah jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk beradaptasi.

Persoalan serupa tampak pada kehadiran papan cerdas interaktif. Layarnya besar, bisa disentuh, menampilkan materi, dan mendukung pembelajaran yang aktif. Namun jumlahnya hanya satu, padahal guru yang membutuhkannya puluhan, kelasnya banyak, dan jadwalnya sudah padat. Jadwal penggunaan pun disusun: Senin untuk Guru A, Selasa untuk Guru B, Rabu untuk Guru C, Kamis untuk Guru D, Jumat entah untuk siapa. Jika ada guru yang mendapat giliran tetapi batal memakai karena ada kegiatan lain, papan cerdas itu kembali menunggu. Benda itu akhirnya bukan lagi sekadar sarana pembelajaran, melainkan berubah menjadi simbol kemajuan digital sekolah.

Padahal sebuah simbol tidak otomatis membuat pembelajaran menjadi lebih maju. Ada sekolah yang memiliki papan cerdas, tetapi gurunya tetap merasa lebih nyaman menulis di papan tulis biasa. Bukan salah gurunya, bukan pula salah papan cerdasnya. Yang keliru adalah anggapan bahwa menyediakan perangkat sama dengan mengubah cara pembelajaran. Membeli alat adalah urusan pengadaan, sedangkan membuat manusia mampu menggunakannya adalah urusan pendidikan. Sayangnya, dua hal itu sering dianggap sama.

Kita juga terlalu cepat memberi cap “tidak paham teknologi” kepada para guru. Padahal seseorang bisa saja sangat memahami hakikat pendidikan, tetapi belum terbiasa dengan aplikasi. Guru yang puluhan tahun mampu membaca karakter siswa tidak otomatis mampu membaca tampilan papan kendali. Guru yang menguasai konsep fotosintesis belum tentu paham mengapa soal yang sudah dimasukkan tiba-tiba hilang. Guru yang mampu menjelaskan sistem peredaran darah dengan indah pun bisa saja jantungnya berdebar ketika jaringan putus saat mengunggah soal. Tuntutan agar guru serba bisa — mengajar, administrasi, teknologi, asesmen, kecerdasan buatan, video pembelajaran, platform digital, dan laporan — membuat profesi ini kian berat. Yang dibutuhkan mungkin bukan ceramah lagi tentang transformasi digital, melainkan seseorang yang duduk di sampingnya dengan tenang dan berkata: “Pak, pelan-pelan. Saya tunjukkan caranya.”

Beban itu bertambah ketika rapat digelar: rapat kurikulum, rapat asesmen, rapat persiapan ujian, rapat evaluasi, rapat tindak lanjut. Pertanyaannya pun bergeser dari apakah siswa sudah belajar atau belum menjadi platform apa yang dipakai, aplikasi apa, daring atau luring, sistem manajemen pembelajaran atau formulir daring, peramban khusus atau tidak, papan cerdas dipakai kapan, siapa yang mengunggah soal, bagaimana nilainya dirangkum, serta laporannya dicetak atau dikirim secara digital. Rapat berlangsung lama, catatan dibuat, foto diambil, keputusan ditandatangani, dan pembagian tugas disusun. Namun rencana yang tampak begitu kokoh kemarin mendadak tinggal kenangan, dan di akhir kegiatan selalu ada satu kalimat penyelamat. Kalimat itulah yang dinilai lebih berbahaya daripada sistem yang mati, sebab pendidikan perlahan bergeser dari melakukan hal yang benar menjadi sekadar membuktikan bahwa sesuatu sudah dilakukan.

Ini masalah lama yang mengenakan pakaian baru. Dulu berupa berkas tebal, kini berupa berkas digital; dulu tabel dicetak, kini masuk ke lembar kerja; dulu tanda tangan basah, kini unggah; dulu disimpan di lemari, kini tersimpan di penyimpanan awan. Bentuknya berubah, tetapi kebiasaannya tetap sama: yang terpenting adalah dokumen lengkap, mulai dari daftar peserta, instrumen, hasil, analisis, rencana tindak lanjut, hingga foto kegiatan dan foto layar. Namun satu pertanyaan kadang tercecer di antara berkas itu: setelah asesmen ini dilaksanakan, apa yang berubah dalam cara siswa belajar? Jika banyak yang belum paham materi, apa tindak lanjutnya? Jika banyak yang salah pada bagian tertentu, apakah cara mengajarnya diperbaiki? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya menjadi pusat perhatian, bukan sekadar kelengkapan laporan.

Previous Post

Tiga Kambing di Sadang Kebumen Ditemukan Mati dengan Jeroan Hilang, Warga Geger

Next Post

GP Ansor Kebumen Salurkan Air Bersih ke Sejumlah Desa Terdampak Kekeringan

reporter

reporter

Next Post

GP Ansor Kebumen Salurkan Air Bersih ke Sejumlah Desa Terdampak Kekeringan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plugin Install : Widget Tab Post needs JNews - View Counter to be installed
  • Trending
  • Comments
  • Latest

BRI Raih Dua Penghargaan dalam Bisnis Indonesia Financial Awards 2026

October 17, 2026

Sekolah Rakyat Jangkau 44 Ribu Anak di 182 Titik, Kemensos Gelar Open House Serentak

October 17, 2026

PGRI Jateng Diminta Perjuangkan P3K Jadi PNS dan Nasib Guru Wiyata Bakti

October 17, 2026
portalberitakita.com

Copyright © 2026 Portal Berita Kita. All rights reserved.

Navigate Site

  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home

Copyright © 2026 Portal Berita Kita. All rights reserved.