Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengenang perjuangan panjang kebijakan hilirisasi nikel yang ia jalani bersama Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Dalam pernyataannya, Jumat (7/8/2026), Luhut mengungkapkan bahwa pada awal penerapan kebijakan tersebut, mereka berdua kerap mendapat cibiran dan kritik dari berbagai pihak.
Hilirisasi nikel merupakan salah satu program strategis pemerintah untuk mengolah bijih nikel di dalam negeri menjadi produk bernilai tambah, seperti baterai kendaraan listrik. Kebijakan ini mulai digencarkan sejak tahun 2020 melalui larangan ekspor bijih nikel mentah. Langkah tersebut awalnya menuai kontroversi, terutama dari negara-negara pengimpor dan sebagian kalangan industri dalam negeri yang meragukan kesiapan infrastruktur pengolahan.
Menurut Luhut, tantangan terbesar justru datang dari dalam negeri. Banyak pihak yang menganggap kebijakan itu terlalu berisiko dan tidak realistis. “Kami dicibir, dianggap tidak mampu. Tapi kami tetap jalan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dukungan penuh dari Presiden Joko Widodo menjadi kunci keberlanjutan program tersebut.
Bahlil Lahadalia, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), menjadi mitra utama Luhut dalam merancang dan mengimplementasikan kebijakan hilirisasi. Keduanya kerap berkoordinasi untuk memastikan investasi di sektor pengolahan nikel berjalan lancar. Hingga kini, Indonesia telah memiliki beberapa smelter nikel yang beroperasi, terutama di kawasan Morowali dan Weda Bay.
Keberhasilan hilirisasi nikel kini diakui secara global. Indonesia berhasil meningkatkan nilai ekspor produk nikel olahan secara signifikan. Bahkan, langkah ini menjadi model bagi komoditas lain seperti bauksit dan tembaga. Luhut menekankan bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia, meskipun harus menghadapi tekanan dari luar negeri, termasuk gugatan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
“Sekarang orang lihat hasilnya. Ekonomi kita tumbuh, lapangan kerja terbuka, dan kita tidak lagi sekadar menjual bahan mentah,” kata Luhut. Ia juga mengapresiasi peran Bahlil yang dinilai gigih dalam menarik investasi hilirisasi. Keduanya berharap keberhasilan ini dapat mendorong transformasi ekonomi Indonesia menuju negara industri berbasis sumber daya alam.
Meski demikian, Luhut mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai. Tantangan ke depan adalah memastikan keberlanjutan industri hilirisasi, termasuk pengembangan energi hijau dan peningkatan kapasitas SDM. “Kita harus terus belajar dan beradaptasi. Jangan cepat puas,” pungkasnya.



