Kementerian Lingkungan Hidup bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas melakukan monitoring pengelolaan sampah di SDN 2 Dukuhwaluh, Kecamatan Kembaran, Banyumas. Kegiatan ini bertujuan memastikan program pengelolaan lingkungan di satuan pendidikan tidak berhenti setelah kegiatan awal, melainkan menjadi kebiasaan sehari-hari warga sekolah.
Tim monitoring meninjau langsung sejumlah praktik pengelolaan sampah yang telah berjalan, seperti ketersediaan tempat sampah, pemanfaatannya oleh warga sekolah, pengolahan sampah, serta inovasi sederhana yang dikembangkan. Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan galon bekas sebagai media tanam. Barang bekas yang berpotensi menjadi sampah itu diubah menjadi wadah untuk penghijauan dan pembelajaran siswa, sehingga memberikan pengalaman kontekstual bahwa sampah dapat dimanfaatkan kembali.
Selain itu, tim juga melihat lokasi potensial untuk pengembangan biopori di lingkungan sekolah. Pengembangan biopori diharapkan menjadi bagian dari pengelolaan lingkungan berkelanjutan sekaligus memberikan pengalaman praktis kepada peserta didik tentang menjaga keseimbangan lingkungan. Kegiatan monitoring ini juga menjadi momentum evaluasi bagi sekolah agar berbagai praktik yang berjalan dapat dikembangkan lebih lanjut dan menjadi budaya sekolah.
Dalam kunjungan tersebut, Luqie, perwakilan DLH Kabupaten Banyumas, mendorong SDN 2 Dukuhwaluh untuk mulai mengembangkan program bank sampah. Menurutnya, bank sampah dapat menjadi sarana edukasi yang melibatkan siswa secara langsung. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah membiasakan siswa membawa satu sampah rumah tangga anorganik setiap hari Jumat untuk dikumpulkan di sekolah, kemudian dikelola melalui mekanisme bank sampah dan dicatat sebagai tabungan. Konsep ini tidak hanya mengumpulkan sampah, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian lingkungan sejak usia dini, yang dampaknya bisa dibawa hingga ke keluarga.
Kepala SDN 2 Dukuhwaluh, Siti Suswati, S.Pd., menyambut positif masukan tersebut. “Kami sangat senang dengan adanya perhatian dan monitoring dari DLH. Harapannya, ini menjadi program yang baik dan SDN 2 Dukuhwaluh bisa menjadi pelopor sekolah dengan pengelolaan sampah yang baik,” ujarnya. Pihak sekolah menilai monitoring ini memberikan dorongan untuk memperbaiki dan memperluas program lingkungan yang telah dimulai, serta melihat pengelolaan sampah sebagai bagian dari pendidikan karakter peserta didik.
Melalui kegiatan ini, siswa belajar bertanggung jawab terhadap lingkungan melalui tindakan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, memanfaatkan barang bekas, hingga membawa sampah anorganik dari rumah. Program tersebut sejalan dengan upaya menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan nyaman, serta meningkatkan kesadaran warga sekolah terhadap kelestarian lingkungan. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, peserta didik, dan masyarakat menjadi modal penting agar gerakan ini berkelanjutan.
Keberlanjutan program menjadi tantangan sekaligus peluang bagi SDN 2 Dukuhwaluh. Pemanfaatan galon bekas, rencana biopori, dan gagasan bank sampah merupakan rangkaian langkah yang saling melengkapi dan dapat menjadi media pembelajaran yang menghubungkan materi pendidikan dengan persoalan lingkungan nyata. Sekolah berharap pendampingan dan monitoring ini menjadi motivasi untuk terus berinovasi, dan praktik baik yang dikembangkan dapat menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lainnya.




