Kebumen – Sebanyak 200-an murid kelas 9 MTs Negeri 4 Kebumen mengikuti kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di Masjid Al Ikhlas madrasah setempat pada Kamis, 27 Agustus 2026. Kegiatan yang menghadirkan petugas Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Rowokele ini mengusung pesan-pesan penting seperti bahaya bullying, narkoba, HIV, serta pencegahan pernikahan usia dini.
BRUS menjadi momentum strategis bagi madrasah untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dan karakter. Kepala MTs Negeri 4 Kebumen, H. Mistam, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa menghadapi masa depan tidak cukup hanya dengan prestasi akademik, tetapi juga membutuhkan kemampuan menjaga diri, membangun pertemanan sehat, dan mengambil keputusan secara bijak. “Madrasah sangat mendukung kegiatan positif seperti ini, khususnya demi kebaikan dan masa depan murid-murid madrasah,” ujarnya saat membuka acara.
Dalam sesi pengantar, Samirin, S.Pd., mengajak murid merefleksikan diri melalui perumpamaan manusia sebagai gelas. Kualitas seseorang ditentukan oleh apa yang diisi ke dalam dirinya—ilmu, adab, serta skill atau talenta. “Dengan ilmu, seseorang memiliki wawasan. Dengan adab, ilmu menjadi lebih bermakna. Sementara dengan keterampilan, seseorang mampu mengembangkan potensi dan menghadapi kehidupan,” jelas Samirin di hadapan para murid.
Materi pertama tentang bahaya bullying disampaikan oleh Amir Salim, S.Pd. Para murid diajak memahami bahwa perundungan bukan sekadar candaan, melainkan dapat berdampak negatif bagi korban dan menciptakan lingkungan pertemanan yang tidak sehat. Murid didorong untuk berani mengatakan “stop” terhadap bullying, serta melaporkan kejadian perundungan kepada orang dewasa atau pihak yang dipercaya. Jika mengetahui ada teman yang melakukan bullying, sikap yang tepat adalah mengajak teman tersebut berubah, bukan ikut-ikutan.
Materi kedua mengenai bahaya narkoba dan HIV disampaikan oleh Maslakhatun, S.Sos. Ia menekankan pentingnya menjaga diri dari perilaku dan pergaulan berisiko, serta membangun kebiasaan positif di masa remaja. “Remaja adalah fase penting untuk membangun fondasi kehidupan. Hindari pergaulan yang menjerumuskan, fokuslah pada pendidikan dan pengembangan diri,” pesannya. Murid juga diajak untuk mampu mengambil keputusan secara bijak dalam memilih lingkungan pertemanan dan aktivitas sehari-hari.
Materi ketiga tentang pencegahan pernikahan usia dini disampaikan oleh Ilham Alamsyah, S.H. Ia mengingatkan agar murid tidak terburu-buru menikah dan lebih fokus menyiapkan masa depan. “Jangan terburu-buru menikah, siapkan masa depan,” tegasnya. Untuk memudahkan pemahaman, ia menganalogikan pernikahan dini seperti memainkan game berat menggunakan HP berspesifikasi rendah, yang bisa menyebabkan “overheat mental, risiko kesehatan, dan performa drop”. Perumpamaan ini menggambarkan bahwa pernikahan memerlukan kesiapan matang, bukan hanya perasaan, tetapi juga mental, kesehatan, ilmu, dan tanggung jawab.
Pesan “Cinta itu nggak bisa bayar kuota” menjadi penutup yang relevan. Kalimat tersebut mengingatkan remaja bahwa membangun keluarga membutuhkan lebih dari sekadar rasa cinta—ada tanggung jawab dan kebutuhan nyata yang harus dipersiapkan. Melalui BRUS ini, murid kelas 9 diharapkan mampu menjaga diri, menjauhi narkoba, berani menolak bullying, serta tidak gegabah mengambil keputusan besar. “Belajar hari ini, menjaga diri sejak dini, dan terus melangkah meraih pendidikan setinggi-tingginya,” pungkas Ilham. Kegiatan ini menjadi ruang dialog yang membekali remaja untuk mempersiapkan masa depan secara matang.

