• Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy
Saturday, September 19, 2026
portalberitakita.com
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Daerah
  • Teknologi
  • Hiburan
  • Olahraga
portalberitakita.com
No Result
View All Result

Pentingnya Menyembuhkan Luka Batin agar Tidak Mewariskannya ke Anak

by reporter
August 11, 2026
in Nasional
0

Setiap orang tua perlu menyadari bahwa luka batin yang tidak tersembuhkan dapat diwariskan secara tidak sadar kepada anak-anak mereka. Hal ini menjadi sorotan dalam sebuah refleksi tentang pola asuh dan trauma masa kecil yang menekankan pentingnya kesembuhan emosional bagi orang tua demi memutus rantai luka antargenerasi.

Banyak orang dewasa tumbuh dengan membawa pesan-pesan yang melukai, seperti ‘Kamu harus hebat supaya dicintai’ atau ‘Jangan menangis, nanti dibilang lemah.’ Pesan itu tertanam begitu dalam hingga akhirnya mereka percaya bahwa diri mereka tidak cukup apa adanya. Saat dewasa dan menjadi orang tua, tanpa disadari kata-kata serupa kembali terucap saat lelah atau saat anak berbuat salah. Ancaman, pembandingan, ejekan, dan pengabaian pola yang sama terulang kembali.

‘Kami menyakiti, bukan karena ingin, tapi karena belum sembuh dari rasa sakit yang dulu kami terima,’ tulis Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja dalam tulisannya. Ia menekankan bahwa menyembuhkan luka batin bukan berarti menyangkal rasa sakit masa lalu, melainkan melihat lukanya, memahaminya, lalu berhenti meneruskannya ke generasi berikutnya.

Langkah pertama menuju penyembuhan adalah kejujuran. ‘Katakan pada dirimu: Aku pernah terluka. Dan aku tidak ingin anakku merasakan hal yang sama. Itu adalah langkah pertama yang paling berani,’ tulisnya. Penyembuhan dimulai dengan mengakui apa yang dulu tidak didengar, tidak dipeluk, atau tidak dipahami, lalu memberikan itu kepada diri sendiri sekarang.

Sebuah ilustrasi disajikan tentang seorang ibu yang melihat anaknya menjatuhkan piring kesayangan. Saat kalimat marah hampir meluncur dari mulutnya, ia menahan diri. Ia berlutut sejajar dengan mata anaknya dan berkata, ‘Piringnya pecah. Tapi Ibu tidak marah padamu. Yang Ibu sayang kan kamu, bukan piringnya.’ Ibu itu memilih untuk memutus rantai luka yang telah berjalan turun-temurun dengan kesadaran dan kasih sayang.

Trisnatun menekankan bahwa kesembuhan adalah pilihan hari ini. ‘Luka boleh datang dari masa lalu. Tapi kesembuhan itu pilihanmu hari ini. Pulihlah. Bukan sekadar untuk dirimu. Tapi agar tanganmu yang dulu pernah terluka, kini memeluk anakmu dengan penuh kasih, bukan dengan beban rasa sakit yang lama,’ tutupnya. Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap kali memilih bersabar dan memahami, kita sedang memutus rantai luka dan menanam benih kesembuhan untuk masa depan.

Previous Post

Pemkab Banyumas Musnahkan 3 Juta Batang Rokok Ilegal Senilai Rp4,37 Miliar

Next Post

Gempa M7,4 Guncang Kolombia, Getaran Terasa hingga Ekuador

reporter

reporter

Next Post

Gempa M7,4 Guncang Kolombia, Getaran Terasa hingga Ekuador

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plugin Install : Widget Tab Post needs JNews - View Counter to be installed
  • Trending
  • Comments
  • Latest

Alleen Spins Casino Online Gids voor Winnen

September 19, 2026

Само в OnlySpins Казино най-добрите игри

September 19, 2026

Neuf plateformes casinos officielles en ligne

September 19, 2026
portalberitakita.com

Copyright © 2026 Portal Berita Kita. All rights reserved.

Navigate Site

  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home

Copyright © 2026 Portal Berita Kita. All rights reserved.