Jakarta – Menjadi kurir paket tidak hanya soal mengantarkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Di balik layar, para kurir menghadapi tekanan waktu, potongan ongkos kirim, hingga risiko akun ditangguhkan akibat kendala di lapangan. Nendra, seorang kurir yang masih berkuliah, dan Nurachman, kurir lain dengan volume pengantaran lebih besar, menjadi gambaran nyata sisi pahit profesi ini.
Dalam sehari, Nendra mengantarkan sekitar 10 hingga 20 order, sementara Nurachman bisa membawa 60 hingga 100 paket. Meski jumlahnya berbeda, keduanya terikat batas waktu penyelesaian. Nendra mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah kemacetan di jalan. “Kalau pas mengantar orderan, biasanya tantangannya jalanan yang ramai, macet terutama, sedangkan sudah ada target waktu per trip atau orderan itu berapa menit,” ujarnya.
Selain macet, masalah lain muncul dari ketidaksesuaian titik lokasi di aplikasi dengan alamat sebenarnya. Nendra pernah mengalami perbedaan jarak yang cukup jauh antara titik Maps yang diberikan pelanggan dengan rumah tujuan. “Kalau jarak alamat rumah sama titik Maps-nya ada yang dekat, ada juga yang jauh banget. Lumayan menyusahin kalau pas jauh,” katanya. Kondisi ini membuat jarak tempuh bertambah, namun ongkos pengiriman tetap sesuai nominal di aplikasi.
Persoalan juga datang dari jenis barang yang harus diangkut. Nendra pernah menerima order gabungan dengan ongkos sekitar Rp40 ribu yang kemudian naik menjadi Rp44 ribu. Saat tiba di toko, ia mendapati barang yang harus dibawa adalah dua karung pasir. “Cek dulu ke tokonya ternyata bawa dua karung pasir, langsung cancel,” tuturnya. Menurut Nendra, berat barang, jarak, dan cuaca menjadi pertimbangan sebelum mengambil order.
Potongan ongkos kirim juga menjadi keluhan lain. Nendra menyebut potongan yang diterimanya sekitar 15 persen per order. Ia mencontohkan satu order dengan ongkos Rp6.400. Jika mendapat dua order sekaligus, total ongkos Rp12.800, setelah dipotong 15 persen menjadi Rp10.880. Artinya, pendapatan bersih berkurang signifikan.
Keputusan membatalkan order, meski terpaksa, membawa konsekuensi. Menurut Nendra, poin pelanggaran memiliki tingkatan: ringan berupa peringatan, menengah berujung suspend beberapa jam, dan berat bisa menyebabkan pemutusan kemitraan. Ia pernah mengalami suspend satu jam setelah membatalkan order karena restoran tidak ditemukan dan titik Maps tidak sesuai. “Satu jam itu bisa dapat satu sampai tiga orderan,” katanya, menunjukkan kerugian waktu yang berarti bagi pendapatannya.
Fenomena ini mencerminkan realitas pekerja di sektor logistik berbasis aplikasi, di mana efisiensi sistem seringkali berbenturan dengan kondisi lapangan. Ketidakakuratan data lokasi, kebijakan potongan biaya, dan sanksi pembatalan menjadi beban tambahan bagi kurir yang setiap hari berjuang melawan waktu dan cuaca. Tanpa perbaikan sistem, risiko suspend dan ongkir terpangkas akan terus menjadi sisi pahit yang harus ditanggung para kurir.



