Seorang pendaki membagikan kembali catatan perjalanannya mendaki Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, yang dilakukan pada Mei 2015. Pendakian tersebut merupakan kali kedua baginya setelah sebelumnya menaklukkan puncak Mahameru pada 2013. Bersama lima rekannya, ia memulai petualangan dari Yogyakarta dengan menggunakan kereta api, menempuh perjalanan darat, hingga akhirnya berhasil mencapai puncak pada dini hari.
Persiapan dilakukan jauh-jauh hari karena saat itu ia bekerja di Kalimantan dengan sistem kerja 86 hari dan jatah cuti 14 hari. Rombongan berjumlah enam orang sepakat berkumpul di Stasiun Tugu Yogyakarta selepas salat Isya. Mereka menumpang Kereta Malioboro Ekspres dengan harga tiket sekitar Rp160.000 per orang. Sebelum berangkat, ia sempat membeli enam porsi nasi gudeg di kios stasiun untuk bekal makan malam bersama. Perjalanan kereta berlangsung nyaman dan tiba di Stasiun Kotabaru, Malang, menjelang waktu Subuh.
Setibanya di Malang, mereka dijemput angkutan desa yang telah dicarter menuju Pasar Tumpang. Di pasar tersebut, mereka transit di sebuah basecamp pendaki yang sama dengan tempat singgah pada 2013. Mereka juga berbelanja logistik seperti jamur untuk dibuat jamur crispy serta aneka sayur untuk menu sop dan bakwan. Sekitar pukul 07.00 WIB, mereka menghubungi sopir jip yang sudah dipesan. Tarif jip sekali jalan dari Pasar Tumpang menuju Ranupane saat itu berkisar Rp600.000. Perjalanan memakan waktu sekitar 2,5 jam, dengan singgah sejenak di Pos Jemplang untuk menikmati pemandangan alam di persimpangan jalur Bromo dan Semeru.
Mereka tiba di Ranupane sekitar pukul 10.00 pagi. Setelah melakukan registrasi dan mendengarkan briefing dari petugas, mereka memutuskan langsung memulai pendakian pada pukul 11.00 agar tiba di Ranu Kumbolo sebelum gelap. Cuaca saat itu diselimuti kabut, dan jalur terasa tidak seramai ketika pendakian pertama pada 2013. Satu jam kemudian, mereka tiba di gapura selamat datang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Meski detail waktu perjalanan dari gapura hingga Ranu Kumbolo samar, mereka berhasil tiba sebelum malam dan mendirikan dua tenda.
Pagi hari di Ranu Kumbolo dihabiskan dengan memasak, menikmati panorama danau, dan meresapi udara pegunungan. Sekitar pukul 10.00, mereka melanjutkan perjalanan menuju Pos Kalimati yang biasanya membutuhkan waktu 5 jam. Rute tersebut melewati tepian danau, kemudian Tanjakan Cinta yang konon memiliki mitos tentang percintaan. Mereka juga melintasi medan datar luas dengan tumbuhan verbena berbunga ungu, dan beristirahat cukup lama di Pos Cemoro Kandang. Sebelum melanjutkan langkah, mereka mengingat peringatan untuk berjalan bersama-sama karena kawasan itu merupakan habitat macan tutul Jawa (Panthera pardus melas).
Tiba di Kalimati saat sore hari, mereka mencari titik aman untuk mendirikan tenda, mengingat area tersebut banyak

