Kericuhan mewarnai pelaksanaan rapat pleno Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang berlangsung di Gedung Graha Serbaguna Pondok Pesantren Bahrul Ulum pada Minggu (30/8/2026). Massa yang mengaku sebagai kader NU menggelar aksi unjuk rasa dan mencoba menerobos masuk ke ruang rapat, memicu ketegangan dengan petugas keamanan. Aksi tersebut berujung pada saling dorong dan baku pukul di lokasi acara.
Berdasarkan pantauan di lokasi, ketegangan bermula ketika massa aksi berusaha menerobos barikade keamanan lapis pertama yang dijaga oleh personel Banser. Meski sempat dihadang, massa berhasil melintasi pintu pengamanan kedua dan terus bergerak menuju area rapat. Kericuhan memuncak saat mereka mencoba menembus pintu keamanan terakhir yang berada tepat di depan gedung serbaguna, tempat rapat pleno digelar.
Petugas keamanan yang berjaga berupaya menghalangi laju massa, namun aksi saling dorong tak terhindarkan. Seorang petugas dari tim ‘SIGAP’ melaporkan dirinya terkena pukulan pada bagian leher saat mempertahankan posisi di pintu pengamanan terakhir. Meski merasakan sakit, ia tetap bertahan untuk mengamankan jalannya rapat pleno yang sedang berlangsung.
Di tengah kerumunan, seorang orator yang memegang megaphone menyuarakan tuntutan agar panitia menghadirkan Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, selaku ketua panitia muktamar. Massa memberikan waktu kepada panitia untuk memenuhi permintaan tersebut, sementara suasana terus memanas. “Mana Ipul (Gus Ipul/Saifullah Yusuf), mana. Kita minta pada panitia agar menghadirkan Ipul,” teriaknya di hadapan petugas dan peserta aksi.
Selain menuntut kehadiran Gus Ipul, orator juga menyampaikan keberatan terkait aturan muktamar yang dinilai tidak adil. Ia menuding panitia telah mendzalimi sebagian peserta dengan mengubah kebijakan secara mendadak. “Ketua panitia yang mendzalimi kami. Kami sama-sama punya hak untuk menyampaikan aspirasi. Siapa yang bisa mendatangkan Gus Ipul,” ujarnya. Ia juga menegaskan, “Saya minta sidang di skors sampai Gus Ipul datang. Ada perubahan tiba-tiba oleh pak Nuh, ini merugikan sebagian orang dan menguntungkan sebagian kelompok.”
Hingga pukul 14.30 WIB, petugas keamanan panitia dan massa aksi masih terlibat aksi saling dorong dan terus berhadapan di lokasi rapat pleno. Kericuhan ini menambah daftar dinamika yang mewarnai Muktamar NU ke-35, yang sebelumnya juga diwarnai isu pemukulan dan karantina peserta. Rapat pleno yang seharusnya berjalan lancar justru terusik oleh aksi protes yang menuntut keadilan dan transparansi dalam proses muktamar.

