Presiden Prabowo Subianto menerima laporan jumlah pengungsi akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 179.037 orang per Rabu (26/8/2026). Namun, menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto, tidak semua pengungsi terdampak langsung gempa berkekuatan magnitudo 7 yang mengguncang wilayah itu pada 15 Agustus 2026. Sebagian besar warga memilih mengungsi karena ketakutan terhadap gempa susulan yang masih sering terjadi serta isu tsunami yang beredar di media sosial.
Dalam rapat penanganan gempa NTT di Yonif 834/WM, Kabupaten Nagekeo, Rabu (26/8/2026), Suharyanto menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh banyaknya gempa susulan yang memicu kecemasan warga. “Tetapi ini (gempa susulan) mengakibatkan masyarakat itu banyak yang mengungsi karena ketakutan. Jadi sebetulnya jumlah pengungsi yang nanti yang banyak ini bukan karena terdampak gempa secara langsung, tetapi karena gempa susulannya banyak, mereka ketakutan,” ujarnya. Ia juga menambahkan, “Dan juga ada beberapa isu dari media sosial yang menyatakan bahwa akan ada gempa susulan yang lebih besar, bahkan ada tsunami.”
Berdasarkan laporan BNPB, korban meninggal dunia akibat gempa mencapai 105 orang, sementara korban luka-luka tercatat 1.678 orang. Kerusakan fisik meliputi 81.436 unit rumah, serta sejumlah fasilitas umum seperti sekolah, masjid, dan kantor pemerintah. Suharyanto menyebutkan bahwa kerusakan terparah terjadi di dua kabupaten, yaitu Manggarai dan Manggarai Timur, disusul Nagekeo yang menempati peringkat ketiga. “Alhamdulillah untuk jembatan-jembatan tidak ada yang rusak parah, hanya ada beberapa yang longsor. Ini jumlahnya 1.951 unit. Yang terparah ada dua kabupaten yaitu Manggarai dan Manggarai Timur, tetapi juga Nagekeo ini juga termasuk kabupaten yang cukup parah, kalau dibuat ranking adalah nomor tiga Bapak Presiden,” jelasnya.
Distribusi bantuan logistik terus dilakukan melalui jalur udara, darat, dan laut. Suharyanto memaparkan, “Untuk barang logistik yang masuk lewat Halim ada 2.032 ton. Yang masuk sudah distribusi ini 1.539 ton Bapak Presiden. Ini kami bagi dua: Labuan Bajo 1.035 ton, Maumere 504 ton. Kami juga mengoperasikan baik dari pemerintah ini ada jalur udara TNI AU 34 sortie 445 ton, kemudian untuk komersil 61 sortie 915 ton. Kemudian dari jalur laut juga sudah dikirimkan sebanyak 179 ton.” Bantuan tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga di lokasi pengungsian.
Di sektor kesehatan, masih ada 19 puskesmas yang belum beroperasi penuh karena kekhawatiran terhadap gempa susulan. Untuk mengantisipasi hal itu, petugas telah mendirikan 122 tenda di depan puskesmas sebagai fasilitas pelayanan sementara. Selain itu, TNI Angkatan Laut mengerahkan dua kapal rumah sakit, yaitu KRI dr. Soeharso yang bertugas di Kabupaten Manggarai dan rumah sakit kapal Kesatria Airlangga yang beroperasi di Manggarai Timur. Upaya ini dilakukan untuk memastikan layanan kesehatan tetap terjangkau bagi para korban.
BNPB memastikan penanganan gempa NTT akan terus berlanjut, termasuk pendataan kerusakan dan percepatan pemulihan infrastruktur. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap informasi hoaks terkait gempa dan tsunami, serta mengikuti arahan resmi dari pemerintah daerah dan petugas di lapangan.




